Rabu, 09 Januari 2013

Ruru rusa yang sombong


kuning, kartun, rusa, berdiri, tanduk, hewan, makhluk

Di sebuah hutan rimba, hiduplah sekelompok binatang rusa. Rusa-rusa itu terdiri dari induk-induk rusa, pejantan, serta anak-anak rusa. Mereka hidup berdampingan dengan rukun, kala ada bahaya menghadang mereka bahu-membahu untuk melindungi kelompoknya. Biasanya bahaya yang datang itu berasal dari binatang buas misalnya harimau yang kelaparan, atau buaya yang selalu mengintai ketika mereka sedang mengambil air minum. Namun selama ini bahaya itu dapat dihindari berkat kewaspadaan kelompok rusa-rusa itu.
Ruru, adalah salah seekor anak rusa jantan yang lahir dari induk dan pejantan rusa yang lincah. Oleh karena itu Ruru mewarisi kemampuan berlarinya yang cepat, dia memiliki 4 kaki yang panjang dan sigap untuk berlari. Anak-anak rusa yang lain tidak mampu menandingi kemampuan berlari Ruru. Ruru lah yang selalu menjadi pemenang ketika anak-anak rusa berlomba menuju danau untuk mencari minum, atau menuju perdu-perdu yang memiliki dedaunan yang segar untuk disantap. Namun bagi anak-anak rusa menang ataupun kalah dalam perlombaan semacam itu hanyalah sebuah kesenangan saja, tidak ada persaingan di antara mereka.
Seiring dengan berjalannya waktu, Ruru kini tumbuh semakin besar, kaki-kakinya semakin jenjang, dan di kepalanya tumbuh pula tanduk yang indah. Anak-anak rusa yang lain semakin mengagumi kelincahan tubuhnya dan keelokan tanduknya. Rupanya kekaguman anak rusa yang lain itu membuat Ruru berubah menjadi sombong, Ruru menjadi semakin sering memamerkan kelincahan tubuh dan keindahan tanduknya itu pada anak-anak rusa yang lain.
”Hai gendut”, kata Ruru pada Popo anak rusa yang lain ketika Popo melintas. “Ayo kita adu lari, eh tapi tidak usah deh, aku sudah tahu kalau aku yang pasti akan menang. Lebih baik kamu tidur saja kan capek membawa perut yang gendut ke mana-mana ha.....ha...ha...” ejek Ruru dengan keras sambil berlalu ke tempat lain. Popo yang mendengarnya hanya diam saja, meski sakit hati tapi dia tidak membalas ejekan itu. Kemudian Ruru bertemu dengan segerombolan anak-anak rusa lain yang lebih muda darinya. ”Hai rusa kecil, ayo siapa yang bisa melompati dahan kering itu nanti akan aku jadikan saudaraku!”, tantang Ruru sambil menunjuk ke arah sebuah dahan pohon. “Tentu kami belum bisa, kaki-kaki kami belum mampu menjangkau dahan pohon setinggi itu”, jawab salah satu anak rusa. “Hai, waktu aku seusia kalian, aku sudah mampu melakukannya, dasar anak-anak rusa lemah”, gerutu Ruru pada anak-anak rusa itu sambil berlalu.
Setelah kejadian itu dan beberapa kejadian yang lain, akhirnya anak-anak rusa yang lain tidak pernah lagi mengajak Ruru bermain bersama seperti sebelumnya. Selain karena tidak ingin sakit hati karena ejekan-ejekan yang selalu dilontarkan Ruru, mereka juga sudah bosan mendengar cerita-cerita Ruru tentang kakinya yang lincah dan tanduknya yang indah itu. Induk Ruru mengetahui hal itu dan mencoba menasehati Ruru. ”Ruru, sudah seharusnyalah kita bersyukur dengan segala apa yang kita miliki, terutama kelebihan-kelebihan kita, namun bukan berarti kita kemudian menjadi sombong”, nasehat induk rusa. “Kenapa ibu berkata seperti itu kepada Ruru? Apa ada anak rusa lain yang mengatakan sesuatu kepada ibu? Siapa bu?”, tanya Ruru mendesak induknya. “Tidak ada Ruru, ibu hanya ingin Ruru tidak menjadi sombong sehingga dibenci teman-teman Ruru”, jawab sang induk. “Ruru tidak pernah sombong, Ruru hanya mengatakan apa adanya tentang diri Ruru Bu”, sergah Ruru. “Iya, asalkan tidak berlebihan, ingat Ruru kita di hutan ini membutuhkan rusa-rusa yang lain. Kita bisa selamat dari berbagai ancaman binatang buas karena kita saling bekerjasama, jadi kita harus selalu berperilaku baik terhadap rusa-rusa yang lain tanpa menyakiti hati mereka”, nasehatnya lagi. “Ah, Ruru mau pergi ke danau dulu Bu”, sahut Ruru sambil ngeloyor pergi tanpa memperhatikan induknya yang sedang menasehatinya.
”Ah pasti ini ulah si rusa gendut itu, atau rusa-rusa cengeng itu. Kalau bukan karena mereka, pasti aku tidak dimarahi ibuku, awas nanti kalian” gerutu Ruru. Ruru kemudian menuju bibir danau untuk mengambil air minum. Ketika tubuhnya mendekati bibir dananu dilihatnya bayangan tubuhnya yang jatuh di air, seolah-olah bercermin, Ruru memandangi bagian-bagian tubuhnya, kakinya hingga tanduknya yang semakin tumbuh indah. “Rupanya aku memang benar-benar seekor rusa yang gagah, pantas saja rusa-rusa yang lain tidak menyukai aku karena mereka merasa iri dengan kesempurnaan tubuhku ini”, kata Ruru memuji dirinya sendiri. Tanpa disadari buaya yang semenjak tadi mengintai di sisi danau kini mulai bergerak mendekati Ruru. Buaya itu ingin menggigit kaki Ruru dan menyeretnya ke dalam air. Ruru yang masih terpana dengan pantulan bayangannya di air tidak menyadari hal itu. Tiba-tiba, hap...buaya berhasil menggigit salah satu kaki depan Ruru. Ruru yang terkejut akhirnya terjatuh, dia berusaha untuk bangkit namun tidak berhasil. Ketika buaya hendak menyeret tubuhnya ke tengah danau, Ruru segera menggigit batang pohon yang tumbuh di dekat danau itu, dan bertahan agar tubuhnya tidak terseret ke tengah danau yang airnya semakin dalam.
Beberapa saat kemudian muncullah Popo, dengan serta merta dia berusaha membantu Ruru agar kakinya terlepas dari gigitan buaya dengan cara menarik batang pohon yang digigit Ruru menjauhi danau dengan harapan Ruru terseret keluar dari tepi danau, namun rupanya cara itu tidak berhasil. Sementara itu Ruru terus meronta-ronta dengan harapan agar kakinya bisa terlepas dari gigitan buaya, namun semakin meronta gigitan itu terasa semakin menguat, hingga tubuhnya mulai lemas dan rontaannya semakin lemah.
Melihat keadaan Ruru, kemudian Popo berlari ke ujung lain danau itu dan menceburkan dirinya ke danau. Ruru heran melihat perilaku temannya itu. Namun cara itu ternyata berhasil, buaya yang menggigit kaki Ruru rupanya lebih tertarik dengan Popo yang tubuhnya lebih gendut, segera saja buaya itu melepaskan gigitannya dan serta merta berenang cepat ke arah di mana Popo menceburkan tubuhnya. Namun begitu mengetahui bahwa buaya telah melepas gigitannya di kaki Ruru, maka dengan sigap pula Popo melompat keluar dari danau. Sambil berteriak keras “Ayo Ruru menjauh dari danau ini” seru Popo pada Ruru. Ruru yang masih sedikit ketakutan dengan peristiwa yang baru saja terjadi kemudian segera berlari namun dengan kaki yang terpincang-pincang karena salah satu kakinya terluka akibat gigitan buaya tadi.
Dengan terengah-engah akhirnya keduanya sampai di tempat induk Ruru, kemudian keduanya menceritakan semua yang terjadi. Induk Ruru merasa cemas sekaligus senang karena melihat anaknya telah berhasil selamat dari petaka meskipun terluka, tak lupa induk Ruru mengucapkan banyak terimakasih pada Popo yang telah baik hati menyelamatkan nyawa anaknya. Namun Ruru hanya terdiam. “Ayo Ruru, kamu juga harus mengucapkan terimakasih pada Popo”, pinta sang induk. Setelah beberapa saat, barulah Ruru berucap, “Ruru malu, sebab selama ini Ruru sering mengejek Popo karena gendut”, kata Ruru sambil menunduk. “Ah tidak apa-apa, tubuhku memang gendut, aku tidak pernah cemberut meskipun kamu sering mengejekku karena aku memang seperti ini, gendut he...he..he.... “, akhirnya mereka tertawa bersama. “Maafkan aku ya Po karena sering mengejekmu, dan terimakasih telah menyelamatkan aku, aku ingin berteman denganmu”, kata Ruru. Sang induk merasa bersyukur dengan peristiwa itu. Akhirnya semenjak saat itu Ruru mengerti maksud dari nasehat induknya, dan semenjak saat itu Ruru menjadi lebih ramah dan tidak sombong terhadap anak-anak rusa yang lain.

bona dan rong rong


masih ingat bona dan rong rong?  yang sering muncul di majalah bobo. dulu waktu masih kecil pada ngoleksi majalah bobo kan? nah kalo gitu pasti udah kenal. ceritanya seru seru kan? nah ini dia bon adan rong rong nya

story of mickey mouse and minnie mouse :)



MENGHIBUR MINNIE YANG SEDANG SEDIH

Suatu hari minnie sedang berdiam diri di taman. Tiba-tiba mikey datang dan menghampiri minnie. “hai minnie!” sapa mikey.”lo ko diem aja? Kenapa kelihatannya minnie sedang sedih ya?” tanya mikey cemas. Tetapi lagi-lagi minnie tidak menjawab pertanyaan mikey. Mikey pun akhirnya mencari bungan lalu diberikan kepada minnie. Minnie pun tersenyum. “makasih mikey bunganya.” Kata minnie. “sama-sama minnie. Sebernarnya minnie kenapa kelihatannya lagi sedih?” tanya kembali mikey. “minnie sedih, karena bunga kesayangan minnie yang disimpan di pot kecil itu pecah terjatuhkan sama daisy waktu donal lagi mengerjarnya.”jelas minnie. “oh...jadi itu sebabnya minnie bersedih. Tenang gak usah bersedih. Besok mikey ahak minnie ke tempat yag indah banget. Sekarang minnie masuk .”hibur mikey agar minnie tidak sedih.

Keesokan harinya mikey menepati janjinya, mikey mengajak minnie ke tempat yang dimaksud kemarin. “tapi minnie harus di tutup dulu matanya sama kain ini!” suruh mikey. “emangnya kenpa harus di tutup segala?” tanya minnie. “nanti bukan kejutan dong. Ayo tutup dulu matanya!” suruh mikey kembali. Dan minnie pun menutupi matanya memakai kain yang diberikan mikey.

Sesampainya disana minnie disuruh duduk disebuah bangku. Dengan mata masih tertutup kain minnie semakin penasaran tentang keberadaannya. “sebenarnya mikey mau bawa minnie kemana? Ini dimana mikey?” tanya minnie penasaran.”nanti juga minnie tau. Sekarang minnie boleh membuka kainnya.”jawab mikey.

Dan minnie pun membuka kain yang menutupi matanya. Betapa terkejutnya minnie. “wah.....tamannya indah sekali...bunganya cantik-cantik...” teriak minnie terpesona akan keindahan taman bunga itu. “minnie suka sama taman bunga ini?” tanya mikey.”minnie suka banget mikey. Makasih ya mikey kamu memang baik!” jawab minnie dengan tak henti hentinya memandangi satu persatu bungan yang ada di depan matanya itu.”nah...sekarang kalau minnie sedangs edih datang saja ke taman bunga ini.” Kata mikey.

Akhirnya, kini minnie mouse tidak bersedih lagi. Berkat mikey mouse kini minnie ceria kembali.

winnie the pooh


 Hm, film dibuka dengan Pooh yang bangun tidur dan mendapati bahwa semua madu di rumah pohonnya telah habis. Karena perutnya lapar, maka Pooh pergi keluar rumah untuk mencari madu atau meminjam madu dari tetangga sekaligus teman – temannya.
            Dalam perjalanan, Pooh mendapati Eeyore sedang kesusahan karena ekornya menghilang. Dengan bantuan Owl dan Christoper Robin, akhirnya diputuskanlah untuk membuat kontes “ ekor baru bagi Eeyore “ dengan hadiah sebuah pot penuh madu. Semua warga hutanpun tertarik untuk mengikuti kontes tersebut, terutama Pooh yang perutnya terus keroncongan.
            Berbagai inovasi dan carapun dilakukan para warga Hutan Hundred Acre untuk memberikan ekor terbaik bagi Eeyore. Sayangnya, hampir semuanya mengalami kegagalan. Saat masalah ekor Eeyore belum selesai, muncul lagi masalah baru dengan diculiknya Christopher Robin oleh makhluk mengerikan yang bernama Backson. Seluruh warga Hutan Hundred Acre bahu - membahu menyusun siasat untuk merebut kembali Christopher Robin dan juga menemukan ekor baru bagi Eeyore. Malangnya, perut Pooh masih bersenandung tanpa bisa dikontrol. “ Oh, dear
            Berdasarkan buku cerita karya A. A. Milne dengan judul yang sama. Film terbaru Disney ini berdasarkan tiga cerita yang ada dalam buku tersebut. Dua kisah berasal dari buku Winnie-the-Pooh: "In Which Eeyore Loses a Tail and Pooh Finds One," dan "In Which Piglet Meets a Heffalump." Sedangkan satunya berasal dari The House at Pooh Corner: "In Which Rabbit Has a Busy Day and We Learn What Christopher Robin Does in the Mornings."
            Sebenarnya, film ini akan mengambil lima kisah dari buku A. A. Milne, namun entah kenapa, hasil akhirnya hanya memasukkan tiga kisah saja. Bahkan, sebelumnya ada pernyataan yang mengatakan bahwa hubungan pertemanan Rabbit akan ditunjukkan di film ini, tapi dalam hasil finalnya, adegan tersebut tidak pernah ada.
            Winnie The Pooh merupakan sebuah film 2D terbaru Disney semenjak kesuksesan The Princess And The Frog. Rasanya menyenangkan sekali melihat sebuah karya klasik Disney ditampilkan lagi dengan format seharusnya, bukannya 3D (khas Disney). Sudah jarang banget menonton film 2D dengan cerita menghibur dan bagus sejak film – filmnya Studio Ghibli.
            Hanya dengan durasi satu jam lebih sedikit (juga diikuti dengan film Winnie The Pooh lainnya dengan durasi yang sekitar satu jam), filmnya sendiri terasa ringan dan menghibur serta penuh dengan makna. Bisa dipastikan bisa menghibur anak – anak yang menontonnya, juga bias menjadi suatu nostalgia bagi orang tua yang juga turut menontonnya. Tak mengherankan film ini mendapat banyak sekali pujian oleh para kritiukus di rottentomatoes.

Barbie in The Nutcracker



Kisah yang diceritakan Barbie dimulai dengan seorang anak yatim piatu Clara yang tinggal bersama kakeknya yang kaku dan adik lelakinya yang nakal, Tommy (Alek Doduk). Berkat cerita petualangan dan pemberian Nutcracker, boneka kayu pemecah kacang oleh bibinya, Clara yang ingin menjadi petualang, akhirnya mengalami mimpi pada malam Natal. Dalam mimpinya, Clara bertemu dengan para prajurit tikus yang dipimpin oleh Mouse King yang jahat (Tim Curry).
Mouse King menyihir Clara menjadi kecil seperti boneka. Berkat bantuan Nutcracker yang menjadi hidup (Kirby Morrow), Barbie berhasil kabur. Barbie dan Nutcraker lalu pergi ke negeri asal Nutcracker, Parthenia. Mouse King telah menggulingkan penguasa Parthenia, Pangeran Eric dan membawa penderitaan pada negeri tersebut. Mereka ditemani para prajurit Nutcracker berusaha mencari Sugar Plun Princess yang bisa membantu mereka melawan Mouse King dan mengembalikan Parthenia dalam kedamaian dan kebahagiaan.

Barbie as the Princess and the Pauper



Alkisah terdapat seorang putri kerajaan bernama Putri Anneliese. Ternyata ia tidak bahagia dan ingin bebas dari kungkungan kehidupan seorang putri yang begitu mengikat. Sementara itu, Erika, seorang gadis biasa yang ingin lepas dari kemiskinan dan posisinya sebagai pelayan dari majikan yang kejam, Madame Carp (Pam Hyatt). Pada suatu hari mereka secara tidak sengaja bertemu dan membuat mereka kaget. Ternyata mereka begitu mirip satu sama lain seperti kembaran saja.
Tidak lama kemudian Putri Anneliese diculik oleh kelompok penjahat. Ternyata penculikan itu didalangi oleh penasehat Ratu yang jahat, Preminger (Martin Short). Preminger melakukan itu agar bisa mempengaruhi Ratu (Ellen Kennedy) dan memuluskan rencananya untuk menjadi raja. Impian Erika untuk menjadi orang kaya pun terpenuhi ketika Julian (Alessandro Juliani), guru Putri Anneliese memintanya untuk menyamar sebagai sang Putri.
Julian yang diam-diam mencintai Putri Anneliese melakukan hal itu agar mendapatkan waktu untuk menemukan siapa dalang penculikan sang Putri. Sementara itu, Erika benar-benar menikmati kehidupan seorang Putri selagi berusaha menyelamatkan Putri Anneliese. Namun masalahnya jadi rumit ketika Erika bertemu dengan seorang raja tampan yang bernama Raja Dominick Mark Hildreth). Ternyata Raja Dominick jatuh cinta pada Erika yang dikiranya adalah Putri Anneliese. Sebaliknya Erika pun jatuh cinta pada Dominick tapi tidak berani berterus terang siapa dirinya yang sebenarnya.

Tinker Bell and The Lost Treasure


Petualangan Tinker Bell dimulai dengan tugasnya dalam membuat scepter. Berdasarkan adat di Pixie Hollow, akhir musim semi dirayakan dengan membuat tongkat batu bulan (scepter). Semua golongan peri telah membuatnya, dan sekarang, giliran golongan peri pekerja.
Peri Mary, pemimpin golongan pekerja, merekomendasikan TinkerBell kepada Ratu Clarion.
TinkerBell harus membuat tongkat yang sempurna menyangga batu bulan. Saat bulan purnama tiba, sinar bulan tersebut harus tepat menembus batu bulan sehingga menghasilkan serbuk biru. Serbuk biru itulah yang menjadi pupuk pohon serbuk ajaib yang merupakan makanan para peri.
Tantangannya, batu bulan tersebut sangat rapuh dan merupakan satu-satunya di dunia.
TinkerBell dibantu oleh sahabatnya, Terence. Namun dalam proses pengerjaannya, terjadi pertengkaran di antara mereka dan batu bulan pun pecah berkeping-keping.
Untuk mengembalikan batu bulan seperti semula, TinkerBell harus menggunakan cermin ajaib yang mengabulkan permintaan.
Dalam perjalanan mencari cermin tersebut-lah TinkerBell mengalami pergulatan emosi (*busyet bahasa gw… pergulatan emosi!). Mulai dari rasa bersalahnya karena telah memarahi Terence, rasa bahagia karena bertemu dengan kawan baru dan ketegangan saat bertarung dengan monster tikus dan troll.





* * *
Petualangan TinkerBell ini member sebuah pesan berharga bagi kita yang menontonnya:
Dari TinkerBell: emas, permata bukanlah harta sesungguhnya. Emas dan permata dapat musnah. Tapi persahabatan akan abadi untuk selamanya

buaya perompak, lampung



Buaya Perompak adalah seekor buaya jadi-jadian yang dulu pernah menghuni Sungai Tulang Bawang, Provinsi Lampung, Indonesia. Buaya jadi-jadian ini terkenal sangat ganas. Konon, sudah banyak manusia yang menjadi korban keganasan buaya itu. Pada suatu hari, seorang gadis rupawan yang bernama Aminah tiba-tiba hilang saat sedang mencuci di tepi Sungai Tulang Bawang. Benarkah Buaya itu yang menculik Aminah? Lalu bagaimana dengan nasib Aminah selanjutnya? Ikuti kisahnya dalam cerita Buaya Perompak berikut ini!
Alkisah, Sungai Tulang Bawang sangat terkenal dengan keganasan buayanya. Setiap nelayan yang melewati sungai itu harus selalu berhati-hati. Begitupula penduduk yang sering mandi dan mencuci di tepi sungai itu. Menurut cerita, sudah banyak manusia yang hilang begitu saja tanpa meninggalkan jejak sama sekali.
Pada suatu hari, kejadian yang mengerikan itu terulang kembali. Seorang gadis cantik yang bernama Aminah tiba-tiba hilang saat sedang mencuci di tepi sungai itu. Anehnya, walaupun warga sudah berhari-hari mencarinya dengan menyusuri tepi sungai, tapi tidak juga menemukannya. Gadis itu hilang tanpa meninggalkan jejak sedikit pun. Sepertinya ia sirna bagaikan ditelan bumi. Warga pun berhenti melakukan pencarian, karena menganggap bahwa Aminah telah mati dimakan buaya.
Sementara itu, di sebuah tempat di dasar sungai tampak seorang gadis tergolek lemas. Ia adalah si Aminah. Ia baru saja tersadar dari pingsannya.
“Ayah, Ibu, aku ada di mana? gumam Aminah setengah sadar memanggil kedua orangtuanya.
Dengan sekuat tenaga, Aminah bangkit dari tidurnya. Betapa terkejutnya ia ketika menyadari bahwa dirinya berada dalam sebuah gua. Yang lebih mengejutkannya lagi, ketika ia melihat dinding-dinding gua itu dipenuhi oleh harta benda yang tak ternilai harganya. Ada permata, emas, intan, maupun pakaian indah-indah yang memancarkan sinar berkilauan diterpa cahaya obor yang menempel di dinding-dinding gua.
“Wah, sungguh banyak perhiasan di tempat ini. Tapi, milik siapa ya?” tanya Aminah dalam hati.
Baru saja Aminah mengungkapkan rasa kagumnya, tiba-tiba terdengar sebuah suara lelaki menggema.
“Hai, Gadis rupawan! Tidak usah takut. Benda-benda ini adalah milikku.”
Alangkah terkejutnya Aminah, tak jauh dari tempatnya duduk terlihat samar-samar seekor buaya besar merangkak di sudut gua.
“Anda siapa? Wujud anda buaya, tapi kenapa bisa berbicara seperti manusia?” tanya Aminah dengan perasaan takut.
“Tenang, Gadis cantik! Wujudku memang buaya, tapi sebenarnya aku adalah manusia seperti kamu. Wujudku dapat berubah menjadi manusia ketika purnama tiba.,” kata Buaya itu.
“Kenapa wujudmu berubah menjadi buaya?” tanya Aminah ingin tahu.
“Dulu, aku terkena kutukan karena perbuatanku yang sangat jahat. Namaku dulu adalah Somad, perampok ulung di Sungai Tulang Bawang. Aku selalu merampas harta benda setiap saudagar yang berlayar di sungai ini. Semua hasil rampokanku kusimpan dalam gua ini,” jelas Buaya itu.
“Lalu, bagaimana jika Anda lapar? Dari mana Anda memperoleh makanan?” tanya Aminah.
“Kalau aku butuh makanan, harta itu aku jual sedikit di pasar desa di tepi Sungai Tulang Bawang saat bulan purnama tiba. Tidak seorang penduduk pun yang tahu bahwa aku adalah buaya jadi-jadian. Mereka juga tidak tahu kalau aku telah membangun terowongan di balik gua ini. Terowongan itu menghubungkan gua ini dengan desa tersebut,” ungkap Buaya itu.
Tanpa disadarinya, Buaya Perompak itu telah membuka rahasia gua tempat kediamannya. Hal itu tidak disia-siakan oleh Aminah. Secara seksama, ia telah menyimak dan selalu akan mengingat semua keterangan yang berharga itu, agar suatu saat kelak ia bisa melarikan diri dari gua itu.
“Hai, Gadis Cantik! Siapa namamu?” tanya Buaya itu.
“Namaku Aminah. Aku tinggal di sebuah dusun di tepi Sungai Tulang Bawang,” jawab Aminah.
“Wahai, Buaya! Bolehkah aku bertanya kepadamu?” tanya Aminah
“Ada apa gerangan, Aminah? Katakanlah!” jawab Buaya itu.
“Mengapa Anda menculikku dan tidak memakanku sekalian?” tanya Aminah heran.
“Ketahuilah, Aminah! Aku membawamu ke tempat ini dan tidak memangsamu, karena aku suka kepadamu. Kamu adalah gadis cantik nan rupawan dan lemah lembut. Maukah Engkau tinggal bersamaku di dalam gua ini?” tanya Buaya itu.
Mendengar pertanyaan buaya itu, Aminah jadi gugup. Sejenak, ia terdiam dan termenung.
“Ma… maaf, Buaya! Aku tidak bisa tinggal bersamamu. Orangtuaku pasti akan mencariku,” jawab Aminah menolak.
Agar Aminah mau tinggal bersamanya, buaya itu berjanji akan memberinya hadiah perhiasan.
“Jika Engkau bersedia tinggal bersamaku, aku akan memberikan semua harta benda yang ada di dalam gua ini. Akan tetapi, jika kamu menolak, maka aku akan memangsamu,” ancam Buaya itu.
Aminah terkejut mendengar ancaman Buaya itu. Namun, hal itu tidak membuatnya putus asa. Sejenak ia berpikir mencari jalan agar dirinya bisa selamat dari terkaman Buaya itu.
“Baiklah, Buaya! Aku bersedia untuk tinggal bersamamu di sini,” jawab Aminah setuju.
Rupanya, Aminah menerima permintaan Buaya itu agar terhindar dari acamana Buaya itu, di samping sambil menunggu waktu yang tepat agar bisa melarikan diri dari gua itu.
Akhirnya, Aminah pun tinggal bersama Buaya Perompak itu di dalam gua. Setiap hari Buaya itu memberinya perhiasan yang indah dan mewah. Tubuhnya yang molek ditutupi oleh pakaian yang terbuat dari kain sutra. Tangan dan lehernya dipenuhi oleh perhiasan emas yang berpermata intan.
Pada suatu hari, Buaya Perompak itu sedikit lengah. Ia tertidur pulas dan meninggalkan pintu gua dalam keadaan terbuka. Melihat keadaan itu, Aminah pun tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan.
“Wah, ini kesempatan baik untuk keluar dari sini,” kata Aminah dalam hati.
Untungnya Aminah sempat merekam dalam pikirannya tentang cerita Buaya itu bahwa ada sebuah terowongan yang menghubungkan gua itu dengan sebuah desa di tepi Sungai Tulang Bawang. Dengan sangat hati-hati, Aminah pun keluar sambil berjingkat-jingkat. Ia sudah tidak sempat berpikir untuk membawa harta benda milik sang Buaya, kecuali pakaian dan perhiasan yang masih melekat di tubuhnya.
Setelah beberapa saat mencari, Aminah pun menemukan sebuah terowongan yang sempit di balik gua itu dan segera menelusurinya. Tidak lama kemudian, tak jauh dari depannya terlihat sinar matahari memancar masuk ke dalam terowongan. Hal itu menandakan bahwa sebentar lagi ia akan sampai di mulut terowongan. Dengan perasaan was-was, ia terus menelusuri terowongan itu dan sesekali menoleh ke belakang, karena khawatir Buaya Perompak itu terbangun dan membututinya. Ketika ia sampai di mulut terowongan, terlihatlah di depannya sebuah hutan lebat. Alangkah senangnya hati Aminah, karena selamat dari ancaman Buaya Perompak itu.
“Terima kasih Tuhan, aku telah selamat dari ancaman Buaya Perompak itu,” Aminah berucap syukur.
Setelah itu, Aminah segera menyusuri hutan yang lebat itu. Setelah beberapa jauh berjalan, ia bertemu dengan seorang penduduk desa yang sedang mencari rotan.
“Hai, Anak Gadis! Kamu siapa? Kenapa berada di tengah hutan ini seorang diri?” tanya penduduk desa itu.
“Aku Aminah, Tuan!” jawab Aminah.
Setelah itu, Aminah pun menceritakan semua peristiwa yang dialaminya hingga ia berada di hutan itu. Oleh karena merasa iba, penduduk desa itu pun mengantar Aminah pulang ke kampung halamannya. Sesampai di rumahnya, Aminah pun memberikan penduduk desa itu hadiah sebagian perhiasan yang melekat di tubuhnya sebagai ucapan terima kasih.
Akhirnya, Aminah pun selamat kembali ke kampung halamannya. Seluruh penduduk di kampungnya menyambutnya dengan gembira. Ia pun menceritakan semua kejadian yang telah menimpanya kepada kedua orangtuanya dan seluruh warga di kampungnya. Sejak itu, warga pun semakin berhati-hati untuk mandi dan mencuci di tepi Sungai Tulang Bawang.
Demikian cerita Buaya Perompak dari darah Tulang Bawang, Lampung, Indonesia. Cerita di atas termasuk kategori dongeng yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Setidaknya ada dua pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas yaitu, keutamaan sifat tidak mudah putus asa dan keburukan sifat suka merampas hak milik orang lain.
Pertama, keutamaan sifat tidak mudah putus asa. Sifat ini ditunjukkan oleh sikap dan perilaku Aminah yang tidak mudah putus asa menghadapi ancaman Buaya Perompak. Dengan kecerdikannya, ia pun berhasil mengelabui Buaya Perompak itu dan berhasil menyelamatkan diri. Dari hal ini dapat dipetik sebuah pelajaran bahwa sifat tidak mudah putus asa dapat melahirkan pikiran-pikiran yang jernih.
Kedua, keburukan sifat suka merampas hak milik orang lain. Sifat ini ditunjukkan oleh sikap dan perilaku Somad (perompak) yang senantiasa merampas harta benda setiap penduduk yang melewati Sungai Tulang Bawang. Akibat perbuatan jahatnya tersebut, ia pun terkena kutukan menjadi seekor buaya. Dalam kehidupan orang Melayu, merampas hak milik orang lain merupakan perbuatan keji dan sangat dipantangkan. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:
siapa merampas hak milik orang,
azabnya keras bukan kepalang
siapa mengambil hak milik orang,
Tuhan murka orang pun perang

si kancil


Siang itu panas sekali. Matahari bersinar garang. Tapi hal itu tidak terlalu dirasakan oleh Kancil. Dia sedang tidur nyenyak di bawah sebatang pohon yang rindang. Tiba-tiba saja mimpi indahnya terputus. “Tolong! Tolong! ” terdengar teriakan dan jeritan berulang-ulang. Lalu terdengar suara derap kaki binatang yang sedang berlari-lari. “Ada apa, sih?” kata Kancil. Matanya berkejap-kejap, terasa berat untuk dibuka karena masih mengantuk. Di kejauhan tampak segerombolan binatang berlari-lari menuju ke arahnya. “Kebakaran! Kebakaran! ” teriak Kambing. ” Ayo lari, Cil! Ada kebakaran di hutan! ” Memang benar. Asap tebal membubung tinggi ke angkasa. Kancil ketakutan melihatnya. Dia langsung bangkit dan berlari mengikuti teman-temannya.
Kancil terus berlari. Wah, cepat juga larinya. Ya, walaupun Kancil bertubuh kecil, tapi dia dapat berlari cepat. Tanpa terasa, Kancil telah berlari jauh, meninggalkan teman-temannya. “Aduh, napasku habis rasanya,” Kancil berhenti dengan napas terengah-engah, lalu duduk beristirahat. “Lho, di mana binatang-binatang lainnya?” Walaupun Kancil senang karena lolos dari bahaya, tiba-tiba ia merasa takut. “Wah, aku berada di mana sekarang? Sepertinya belum pernah ke sini.” Kancil berjalan sambil mengamati daerah sekitarnya. “Waduh, aku tersesat. Sendirian lagi. Bagaimana ini?’7 Kancil semakin takut dan bingung. “Tuhan, tolonglah aku.”
Kancil terus berjalan menjelajahi hutan yang belum pernah dilaluinya. Tanpa terasa, dia tiba di pinggir hutan. Ia melihat sebuah ladang milik Pak Tani. “Ladang sayur dan buah-buahan? Oh, syukurlah. Terima kasih, Tuhan,” mata Kancil membelalak. Ladang itu penuh dengan sayur dan buah-buahan yang siap dipanen. Wow, asyik sekali! “Kebetulan nih, aku haus dan lapar sekali,” kata Kancil sambil menelan air liurnya. “Tenggorokanku juga terasa kering. Dan perutku keroncongan minta diisi. Makan dulu, ah.”
Dengan tanpa dosa, Kancil melahap sayur dan buahbuahan yang ada di ladang. Wah, kasihan Pak Tani. Dia pasti marah kalau melihat kejadian ini. Si Kancil nakal sekali, ya? “Hmm, sedap sekali,” kata Kancil sambil mengusap-usap perutnya yang kekenyangan. “Andai setiap hari pesta seperti ini, pasti asyik.” Setelah puas, Kancil merebahkan dirinya di bawah sebatang pohon yang rindang. Semilir angin yang bertiup, membuatnya mengantuk. “Oahem, aku jadi kepingin tidur lagi,” kata Kancil sambil menguap. Akhirnya binatang yang nakal itu tertidur, melanjutkan tidur siangnya yang terganggu gara-gara kebakaran di hutan tadi. Wah, tidurnya begitu pulas, sampai terdengar suara dengkurannya. Krr… krr… krrr…
Ketika bangun pada keesokan harinya, Kancil merasa lapar lagi. “Wah, pesta berlanjut lagi, nih,” kata Kancil pada dirinya sendiri. “Kali ini aku pilih-pilih dulu, ah. Siapa tahu ada buah timun kesukaanku.” Maka Kancil berjalan-jalan mengitari ladang Pak Tani yang luas itu. “Wow, itu dia yang kucari! ” seru Kancil gembira. “Hmm, timunnya kelihatan begitu segar. Besarbesar lagi! Wah, pasti sedap nih.” Kancil langsung makan buah timun sampai kenyang. “Wow, sedap sekali sarapan timun,” kata Kancil sambil tersenyum puas. Hari sudah agak siang. Lalu Kancil kembali ke bawah pohon rindang untuk beristirahat.
Pak Tani terkejut sekali ketika melihat ladangnya. “Wah, ladang timunku kok jadi berantakan-begini,” kata Pak Tani geram. “Perbuatan siapa, ya? Pasti ada hama baru yang ganas. Atau mungkinkah ada bocah nakal atau binatang lapar yang mencuri timunku?” Ladang timun itu memang benar-benar berantakan. Banyak pohon timun yang rusak karena terinjak-injak. Dan banyak pula serpihan buah timun yang berserakan di tanah. 7 @ Hm, awas, ya, kalau sampai tertangkap! ” omel Pak Tani sambil mengibas-ngibaskan sabitnya. “Panen timunku jadi berantakan.” Maka seharian Pak Tani sibuk membenahi kembali ladangnya yang berantakan.
Dari tempat istirahatnya, Kancil terus memperhatikan Pak Tani itu. “Hmm, dia pasti yang bernama Pak Tani,” kata Kancil pada dirinya sendiri. “Kumisnya boleh juga. Tebal,’ hitam, dan melengkung ke atas. Lucu sekali. Hi… hi… hi…. Sebelumnya Kancil memang belum pernah bertemu dengan manusia. Tapi dia sering mendengar cerita tentang Pak Tani dari teman-temannya. “Aduh, Pak Tani kok lama ya,” ujar Kancil. Ya, dia telah menunggu lama sekali. Siang itu Kancil ingin makan timun lagi. Rupanya dia ketagihan makan buah timun yang segar itu. Sore harinya, Pak Tani pulang sambil memanggul keranjang berisi timun di bahunya. Dia pulang sambil mengomel, karena hasil panennya jadi berkurang. Dan waktunya habis untuk menata kembali ladangnya yang berantakan. “Ah, akhirnya tiba juga waktu yang kutunggu-tunggu,” Kancil bangkit dan berjalan ke ladang. Binatang yang nakal itu kembali berpesta makan timun Pak Tani.
Keesokan harinya, Pak Tani geram dan marah-marah melihat ladangnya berantakan lagi. “Benar-benar keterlaluan! ” seru Pak Tani sambil mengepalkan tangannya. “Ternyata tanaman lainnya juga rusak dan dicuri.” Pak Tani berlutut di tanah untuk mengetahui jejak si pencuri. “Hmm, pencurinya pasti binatang,” kata Pak Tani. “Jejak kaki manusia tidak begini bentuknya.” Pemilik ladang yang malang itu bertekad untuk menangkap si pencuri. “Aku harus membuat perangkap untuk menangkapnya! ” Maka Pak Tani segera meninggalkan ladang. Setiba di rumahnya, dia membuat sebuah boneka yang menyerupai manusia. Lalu dia melumuri orang-orangan ladang itu dengan getah nangka yang lengket!
Pak Tani kembali lagi ke ladang. Orang-orangan itu dipasangnya di tengah ladang timun. Bentuknya persis seperti manusia yang sedang berjaga-jaga. Pakaiannya yang kedodoran berkibar-kibar tertiup angin. Sementara kepalanya memakai caping, seperti milik Pak Tani. “Wah, sepertinya Pak Tani tidak sendiri lagi,” ucap Kancil, yang melihat dari kejauhan. “Ia datang bersama temannya. Tapi mengapa temannya diam saja, dan Pak Tani meninggalkannya sendirian di tengah ladang?” Lama sekali Kancil menunggu kepergian teman Pak Tani. Akhirnya dia tak tahan. “Ah, lebih baik aku ke sana,” kata Kancil memutuskan. “Sekalian minta maaf karena telah mencuri timun Pak Tani. Siapa tahu aku malah diberinya timun gratis.”
“Maafkan saya, Pak,” sesal Kancil di depan orangorangan ladang itu. “Sayalah yang telah mencuri timun Pak Tani. Perut saya lapar sekali. Bapak tidak marah, kan?” Tentu saj,a orang-orangan ladang itu tidak menjawab. Berkali-kali Kancil meminta maaf. Tapi orang-orangan itu tetap diam. Wajahnya tersenyum, tampak seperti mengejek Kancil. “Huh, sombong sekali!” seru Kancil marah. “Aku minta maaf kok diam saja. Malah tersenyum mengejek. Memangnya lucu apa?” gerutunya. Akhirnya Kancil tak tahan lagi. Ditinjunya orangorangan ladang itu dengan tangan kanan. Buuuk! Lho, kok tangannya tidak bisa ditarik? Ditinjunya lagi dengan tangan kiri. Buuuk! Wah, kini kedua tangannya melekat erat di tubuh boneka itu. ” Lepaskan tanganku! ” teriak Kancil j engkel. ” Kalau tidak, kutendang kau! ” Buuuk! Kini kaki si Kancil malah melekat juga di tubuh orang-orangan itu. “Aduh, bagaimana ini?”
Sore harinya, Pak Tani kembali ke ladang. “Nah, ini dia pencurinya! ” Pak Tani senang melihat jebakannya berhasil. “Rupanya kau yang telah merusak ladang dan mencuri timunku.” Pak Tani tertawa ketika melepaskan Kancil. “Katanya kancil binatang yang cerdik,” ejek Pak Tani. “Tapi kok tertipu oleh orang-orangan ladang. Ha… ha… ha…. ” Kancil pasrah saja ketika dibawa pulang ke rumah Pak Tani. Dia dikurung di dalam kandang ayam. Tapi Kancil terkejut ketika Pak Tani menyuruh istrinya menyiapkan bumbu sate. ” Aku harus segera keluar malam ini j uga I ” tekad Kancil. Kalau tidak, tamatlah riwayatku. ” Malam harinya, ketika seisi rumah sudah tidur, Kancil memanggil-manggil Anjing, si penjaga rumah. “Ssst… Anjing, kemarilah,” bisik Kancil. “Perkenalkan, aku Kancil. Binatang piaraan baru Pak Tani. Tahukah kau? Besok aku akan diajak Pak Tani menghadiri pesta di rumah Pak Lurah. Asyik, ya?”
Anjing terkejut mendengarnya. “Apa? Aku tak percaya! Aku yang sudah lama ikut Pak Tani saja tidak pernah diajak pergi. Eh, malah kau yang diajak.” Kancil tersenyum penuh arti. “Yah, terserah kalau kau tidak percaya. Lihat saja besok! Aku tidak bohong! ” Rupanya Anjing terpengaruh oleh kata-kata si Kancil. Dia meminta agar Kancil membujuk Pak Tani untuk mengajakn-ya pergi ke pesta. “Oke, aku akan berusaha membujuk Pak Tani,” janji Kancil. “Tapi malam ini kau harus menemaniku tidur di kandang ayam. Bagaimana?” Anjing setuju dengan tawaran Kancil. Dia segera membuka gerendel pintu kandang, dan masuk. Dengan sigap, Kancil cepat-cepat keluar dari kandang. “Terima kasih,” kata Kancil sambil menutup kembali gerendel pintu. “Maaf Iho, aku terpaksa berbohong. Titip salam ya, buat Pak Tani. Dan tolong sampaikan maafku padanya.” Kancil segera berlari meninggalkan rumah Pak Tani. Anjing yang malang itu baru menyadari kejadian sebenarnya ketika Kancil sudah menghilang.

Asal Usul Kali Gajah Wong, Yogyakarta


Konon menurut cerita yang dimitoskan oleh masyarakat Yogyakarta Selatan, terjadilah suatu peristiwa yang sangat menakjubkan. Yakni terjadinya sungai Gajah Wong pada zaman kerajaan Mataram yang diperintah oleh Raja Sultan Agung.

Kali Gajah Wong adalah sebuah kali yang terletak ditengah-tengah kota kecamatan Kotagede. Panjang kali ini tak lebih dari 20 kilometer.

Pada abad ketujuhbelas, kali ini merupakan kali yang kecil. Masyarakat di situ menyebutnya sebuah kalen, yang artinya kali kecil. Dan kebetulan airnyapun hanya gemercik mengalir sedikit sekali.

Pada suatu hari Sultan memanggil seorang Pawang Gajah.

“Pawang, cobalah kau mandikan gajah itu hingga bersih”.

“Oh…. hamba akan kerjakan kehendak Gusti Sultan,” jawab Pawang.

“Di kali sana, yang airnya bening sekali,” sabda Sultan lagi.

“Demi Sultan, akan segera kukerjakan perintah ini”.

Tetapi mana mungkin, kali ini sangat sedikit airnya. Tak dapat untuk memandikan gajah yang besar itu. Pawang termenung sejenak sebelum turun ke kali kecil itu. Tetapi apalah daya, tak mungkin Pawang ini menolak kehendak Gusti Sultan. Dan dia segera turun ke kali bersama gajahnya. Air kali itu hanya dapat membasahi kuku gajah dan tumit Pawang. Dengan segala cara Pawang tak berhasil memandikan gajahnya, karena air yang gemercik tak cukup untuk mengguyur seluruh tubuh gajah. Pawang mulai panik. Mulai risau. Takut akan mendapat amarah dari Sultan. Dia segera memutuskan untuk pulang, untuk menghadap Gusti Sultan. Dia berharap, kiranya Gusti Sultan tak akan marah.

“Ampun beribu ampun Gusti Sultan, hamba telah bardosa tidak dapat menunaikan perintah Gusti Sultan. Hukumlah hamba ini atas kesalahan hamba. Hamba tak dapat memandikan gajah dengan bersih. Karena air kali cuma sedikit sekali. Dan rasanya tidak mungkin hamba dapat memandikannya,” hatur Pawang dengan gemetar.

“Tidak, aku tidak akan menghukummu Pawang, sebelum kau mencoba dengan sebaik-baiknya. Cobalah sekali lagi kau bawa ke kali, gajah yang kau mandikan tadi. Kalau dengan sabar, aku yakin, pasti kau akan dapat melakukannya dengan baik. Pergilah sekarang juga.”

Tanpa membantah Pawang segera pergi ke kali dengan gajahnya. Melihat air kali yang semakin sedikit itu, Pawang semakin gelisah. Kemudian dia bersama gajahnya menuruni kali.

Dia memutar otaknya, bagaimana cara yang paling baik agar gajah dapat dimandikan.

“O, sungai membuatku celaka ! Airnya tak cukup untuk mengguyurku. Apalagi untuk memandikan gajah,” katanya sendirian sambil mengusap tubuh gajah dengan air itu.

“Hentikan saja airmu ini wahai kali, daripada engkau membuatku celaka. Keringlah kau air, daripada menambah sedihku. Habislah kau air !” kata Pawang dengan geram.

Tiba-tiba saja air kali kecil itu mendadak banjir. Banjir besar sampai melanda daerah sekeliling kali itu. Pawang tidak dapat menguasai diri. Air kali itu menghanyutkan Pawang dan gajahnya.

Pada akhirnya Gusti Sultanpun mendengar berita tentang Banjir itu. Gusti Sultan sangat terkejut mendengarnya. Dan untuk kenang-kenangan, kali itu disebut kali ‘Gajah Wong”, karena kali telah menghanyutkan gajah dan orang (Pawang).

Sampai kinipun di desa Wonokromo Kecamatan Pleret masih terdapat bukit kecil, yang letaknya di pinggir kali Gajah Wong, yang dimitoskan warga, bahwa bukit itu adalah makam seorang Pawang dan gajahnya