Selasa, 08 Januari 2013

tiga babi kecil


Dahulu kala, ada tiga ekor anak babi yang pergi mengembara untuk lebih mengenal dunia. Sepanjang musim semi, mereka berkelana di dalam hutan, bermain dan bergembira. Pokoknya serasa di dunia tak ada yang lebih gembira dari mereka bertiga, karena mereka adalah anak-anak yang baik, mereka banyak mendapatkan teman dalam perjalananya. Kemanapun mereka pergi, mereka selalu disambut dengan gembira. Namun musim semi sudah akan berakhir, mereka sadar orang-orang sudah mulai bekerja untuk mempersiapkan diri dalam rangka menyambut musim dingin yang sebentar lagi akan datang. Maka tibalah musim gugur dan hujan mulai sering turun membasahi bumi. Ketiga anak babi ini mulai menyadari, bahwa mereka harus segera membuat tempat tinggal. Mereka merasa agak sedih karma masa untuk bergembira telah berakhir dan mereka harus segera bekerja seperti yang lainnya, jika tidak mereka akan basah dan kedinginan tanpa ada tempat untuk berteduh.
         Mereka mulai berbincang tentang apa yang akan dilakukan, namun masing-masing mempunyai rencana sendiri-sendiri. Si anak babi yang paling pemalas mengatakan ia akan membangun pondok jerami.
         “ yah.. sehari juga beres,” katanya.
Anak babi yang lainnya tidak sependapat dengannya, “kalau rumah dari jerami sangat mudah rubuh,” kata mereka, namun si anak babi yang pemalas tidak mau mendengarkan nasehat kakak-kakaknya, ia tetap pada keputusannya untuk membangun rumah dari jerami.  Anak babi yang agak rajin, memutuskan untuk membangun rumah dari kayu, ia lalu pergi ke hutan mencari plank kayu untuk membuat rumahnya.
    "Clunk! Clunk! Clunk!"   dalam dua hari rumah kayunya telah siap untuk ditempati. Namun anak babi yang ketiga tidak menyenangi pondok kayu tersebut.
     “ Bukan begitu caranya untuk membuat rumah,” katanya. “ sebuah rumah harus dibangun dengan penuh kesabaran dan kerja keras dan tentunya membutuhkan waktu yang agak lama untuk membangunnya. Rumah harus juga kuat untuk menahan serbuan angin, dan melindungi kita dari serangan serigala.
        Hari demi hari berlalu, si babi kecil yang bijaksana mulai membangun rumahnya dengan batu bata, sebata demi sebata dari waktu hingga kewaktu.  Kakak-kakaknya selalu datang berkunjung dan mengajaknya bermain, mereka mengejeknya karena kengototannya membangun rumah dari bata, ia jadi kehilangan kesempatan untuk bermain. Namun si babi kecil yang rajin ini hanya mengatakan “no..no.no.no…
Aku harus terus bekerja dan menyelesaikan rumahku sampai jadi. Aku tidak akan semberono seperti kalian, ingat kakak siapa yang tertawa terakhir adalah yang tawanya paling lama,”         Maka tibalah musim dingin, salju memutih menutupi tanah, dan saat itu biasanya serigala yang lapar akan selalu berkeliaran. Yang sadar pertama tentang keberadaan serigala adalah si anak babi yang pemalas. Ia buru-buru berlari menuju rumah jeraminya.
       “Ayo keluar!” perintah serigala, mulutnya berair, liurnya mengalir.
        “Tidak mau !” kata si pemalas, aku akan tetap berada di dalam rumah!” bisiknya.
“ he..he..he..he.. aku akan membuatmu keluar bocah kecil!” geram si serigala murka. Serigala itu menarik nafasnya dalam-dalam lalu meniup rumah jerami itu sekuat  kuatnya. Semua jerami berterbangan dan serigala itu sangat bangga sekali atas keberhasilannya, sehingga ia tidak sadar bahwa anak babi yang pemalas itu telah menyelinap keluar dan berlari kerumah kakaknya yang terbuat dari kayu. Ketika serigala itu sadar, si pemalas sudah hampir mencapai rumah kayu, dan serigala itu menjadi marah.“Kembali !” ia meraung sambil mengejar, hampir saja si pemalas tertangkap olehnya. Sipemalas  yang telah berpelukan dengan kakaknya  gemetar ketakutan. “ tenang,” kata kakaknya, “rumah ini kan kuat terbuat dari kayu, mari kita menahan pintunya, supaya ia tidak bisa mendobrak masuk,”Di luar, si serigala bias mendengarkan ucapan si babi kecil, karena saking laparnya, dan membayangkan dua makanan enak yang akan nikmati, ia la ngsung meniup pintu tsb, seperti yang ia lakukan di rumah jerami.
           “Buka!..buka.!! aku hanya  ingin ngobrol saja..!!” teriaknya, di dalam rumah kedua babi kecil itu sangat ketakutan. Si serigala sdangat murka ia menarik nafas dengan panjang dan dalam, lalu ia meniup rumah kayu itu. WHOOOO, maka rubuhlah rumah kayu itu seperti setumpuk kartu.
          Untungnya si bungsu yang merupakan anak babi yang bijaksana dan rajin telah melihat hal tersebut dari kejauhan, ia segera membuka pintu rumah batunya lalu berteriak memanggil kedua kakaknya agar segera berlari kerumahnya.Serigala kembali mengejar mereka, namun di depan rumah batu ini, serigala merasa ragu-ragu, karena rumah yang satu ini terlihat sangat kokoh, ia mencoba terus meniup, namun sampai nafasnya habis, dadanya sesak dan perutnya kerempeng mengecil ia tetap tidak mampu menggoyang rumah tersebut sedikitpun.Ketiga anak babi kecil hanya memandanginya dengan ketakutan, karena telah lelah serigala jahat mencoba cara lain, pelan-pelan ia memanjat ke atas atap dan mecoba naik dari lobang perapian, untung saja si babi kecil yang bijaksana menyadarinya, ia segera mengajak kakak-kakaknya untuk menyalakan tungku pengapian. Serigala jahat tidak menyadarinya, ketika ia mendarat ke bawah, ia berteriak kesakitan,“wadow..wadow..aduh..duh..duh..duuuh.”.  Ternyata  api telah melahap bulu tubuhnya dan ekornya. “ampunnn…ampunn..’” teriaknya. Sejak saat itu serigala jahat tidak pernah kembali lagi ketempat tersebut. Ketiga babi kecil kini dapat hidup dengan tenang dan aman dan tentunya dan bermain dengan gembira setiap hari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar