Jumat, 15 November 2013

Cerpen - Penyesalan

Toni dan Jenny adalah dua orang sahabat yang serasi. Kemana pun Toni pergi, Jenny selalu ada di sampingnya. Jika Toni sakit, Jenny tidak pernah lupa untuk menjenguk Toni. Begitu pula sebaliknya. Mereka mulai saling mengenal saat Masa Orientasi Siswa di SMA. Saat itu, Ketua OSIS mencari satu laki-laki dan satu perempuan untuk menari salsa di depan anak-anak yang lain. Ketua OSIS itu pun menunjuk Toni dan Jenny karena ia melihat mereka sedang asik melamun sendiri, tidak memperhatikannya yang sedang berbicara di depan. Karena kejadian itu, mereka jadi saling mengenal satu sama lain. Sampai pada akhirnya, saat mereka lulus dari SMA, timbul perasaan yang “lebih” dari sekedar sahabat. Perasaan itu tumbuh pada keduanya. Mereka berdua saling menyayangi, hanya saja mereka tidak berani untuk mengatakan yang sebenarnya.
Suatu hari, Toni ingin mengajak Jenny ke sebuah taman yang dipenuhi bunga-bunga yang indah. Toni ingin mengatakan yang sebenarnya tentang perasaannya pada Jenny. Toni berangkat lebih dulu ke taman itu, sedangkan Jenny menyusul karena harus mengantarkan ibunya pulang terlebih dahulu ke rumah. Selagi menunggu Jenny datang, Toni menyiapkan mental yang sangat matang. Agar saat menyatakan cintanya, Toni tidak terlihat gugup di depan Jenny.
Tidak lama, Jenny datang dengan wajah yang pucat seperti orang yang sedang sakit. Toni yang tidak ingin Jenny kenapa-kenapa pun bertanya, “Kamu kenapa, Jen?” Jenny menjawab, “Tidak apa-apa. Aku hanya lelah saja seharian menemani ibu keliling pasar tadi.” “Tapi wajah kamu pucat sekali. Kita ke dokter sekarang ya!” Seru Toni, panik. “Tidak usah, Ton. Aku tidak kenapa-kenapa kok.”
Toni yang mendengar jawaban Jenny itu pun tidak bisa memaksa. Toni memang tidak pernah mau memaksakan kehendak Jenny. Sampai akhirnya, Jenny mengatakan sesuatu pada Toni.
“Ton, aku sayang sama kamu lebih dari sekedar sahabat. Aku harap kamu juga begitu.”
Jantung Toni berdegup cepat. “Aku juga sayang sama kamu, Jen. Aku menyuruh kamu kesini karena aku memang ingin mengatakan hal itu.”
Jenny tersenyum mendengar jawaban Toni. Toni pun membalas senyuman itu dengan sebuah pelukan. Pelukan yang tulus dan menghangatkan tubuh Jenny yang sedang terlihat sakit itu.
“Ton, aku kesana sebentar ya. Aku haus.” Ujar Jenny sembari menunjuk sebuah warung yang ada di belakang mereka.
Bersamaan dengan perginya Jenny, ponsel Toni berdering. Dilihatnya, ternyata ibunda Jenny menelfon Toni. Toni pikir, sang ibu khawatir dengan Jenny karena ia sudah pergi seharian hingga menjelang malam seperti ini. Toni pun mengangkat telfon itu.
“Hallo.”
“Hallo, ini nak Toni ya?”
“Iya betul. Ada apa tante?”
“Bisa ke rumah sekarang? Maafkan Jenny ya kalau selama ini sering merepotkan kamu.” Suara tangisan terdengar samar-samar di telinga Toni.
“Biasa. Ah, tidak tante. Jenny tidak pernah merepotkan saya kok. Ngomong-ngomong, ada apa ya saya disuruh ke rumah?”
“Jenny meninggal karena kecelakaan, Nak. Saat di perjalanan ingin bertemu dengan kamu sepertinya. Kamu ke rumah sekarang ya?”
Toni yang mendengar itu langsung terdiam tanpa kata. Ia langsung memasukan ponselnya ke dalam celana dan berlari ke warung yang ditunjuk oleh Jenny tadi.
“Maaf, Pak. Tadi ada perempuan yang beli minum disini?”
“Tidak ada. Dari tadi sepi, tidak ada satu orang pun yang kemari.” Jawab sang penjaga warung.
Toni bergegas masuk ke dalam mobilnya dan pergi ke rumah Jenny. Ternyata benar, sampai di rumah Jenny, ia sudah tiada. Air mata tiba-tiba turun membasahi pipi Toni. Toni menyesal karena tidak pernah mengatakan yang sebenarnya pada Jenny. Mungkin, arwah Jenny tadi hanya ingin mengatakan itu. Mengatakan apa yang seharusnya Toni katakan kepadanya setelah lulus SMA 2 tahun yang lalu. Toni juga menyesal karena tadi Toni tidak berangkat bersama dengan Jenny seperti biasanya.
Memang benar, jika kita mencintai seseorang, katakanlah. Jangan terlalu lama dipendam. Kita tidak akan tahu sampai kapan umur kita dan umur orang yang kita cintai itu. Karena jika terlalu lama dipendam, pada akhirnya hanya sebuah penyesalan lah yang kita dapatkan di akhir nanti.
Cerpen Karangan: Bayu Pradhana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar