Jumat, 15 November 2013

Cerpen - Kesetiaan Separuh Jalan

Hari itu ketika ia dilahirkan dari rahim seorang wanita paruh baya, tangisan darinya mengundang haru kedua orang tuanya. Ketika itu juga disaat ia belum melihat dunia yang baru saja menyambutnya setelah perjanjian dengan Tuhan telah disanggupi. Suara adzan dari bibir ayah tercinta adalah hal pertama yang sengaja diperdengarkan tepat di depan kedua telinga. Lalu diciumnya kening sang istri sembari memeluk harapan yang baru saja dianugerahkan kepada mereka.
Rasa sakit yang teramat sangat, keringat yang bercucuran dengan derasnya, dan darah yang mengalir kini terbayar sudah dengan lahirnya si buah hati. Gelisah dalam penantian, resah yang mengganggu jiwa, dan khawatir yang menggerogoti hati kini telah diusir pergi oleh pelukan sang istri disertai kerasnya tangisan seorang bayi perempuan.
Larut dalam bahagia tak menyadarkan mereka bahwa malam telah datang menghapus terang dan mulai menampakkan kegelapan. Walau demikian, mereka sedikitpun tiada gentar menghadapi kenyataan karena keyakinan mereka bahwa dia adalah lentera yang dapat memancarkan sinar terang dalam kegelapan. Hari demi hari silih berganti, putaran waktu tak kan pernah berhenti hingga “Nina Anugerah Qita” adalah nama yang diberikan ayah kepadanya. Lengkap sudah kebahagiaan yang lama dinantikan, terpenuhi sudah balasan atas kesetiaan dalam suatu ikatan yang sah.
Umur Nina kian bertambah artinya sisa hari-harinya di dunia terus berkurang sampai “kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa.. hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia” merupakan lagu lama yang baru pertama kali diperdengarkan dan mencoba terus untuk dinyanyikan. Airmata bunda tak tertahankan ketika Nina melantunkan lagu itu dengan senyuman tulus menyertai setiap syair lagu yang dinyanyikannya. Lalu rasa haru menyesakkan dada sang ayah tercinta disela kesibukannya mencari nafkah untuk hidup mereka. Airmata dan rasa haru tercampur menjadi satu membentuk harapan akan kebaktiaan seorang anak terhadap orang tua yang tak kan pernah pudar rasa kasih sayang serta cinta kepada anaknya.
Suatu malam, ketika Nina mulai beranjak remaja. Musibah datang menimpa keluarga bahagia. Tiadalah hati dapat menyangka bahwa apa yang dilakukan ayah menghadirkan musibah yang mengharuskan mereka terpisah. Airmata menetes lagi, rasa haru hadir kembali sebab ayah terpaksa pergi untuk mempertanggung jawabkan segala perbuatan yang dilakukan meski demi menghidupi keluarga yang dicintai. Ayah kini telah pergi meninggalkan sang istri, ayah juga pergi meninggalkan Nina yang tidak lagi bayi. Hari-hari mulai berat dijalani, segala masalah yang datang terasa menyudutkan. Namun kesetiaan seorang istri dalam menanti, dan kebaktian seorang anak dalam berbuat adalah kekuatan untuk menjaga keutuhan hubungan dari ganasnya godaan. Setiap hari, setiap malam, dan setiap bunda sendiri, airmatanya berlinang mengingat semua yang pernah dilakukan bersama suami tercinta sampai buah hati mereka sebesar ini. Ia mengingat ketika pertama menjalin cinta, ia tak lupa saat-saat tertawa bersama, ia mengingat ketika pertama mendengar tangisan dari Nina, ia takkan lupa pengorbanan yang dilakukan suami untuk dirinya sebelum dan setelah hadirnya Nina. Lagu yang pernah mereka nyanyikan bersama pun tidak lepas dari ingatan bunda bahkan tak jarang ia menyanyikannya dalam duka dan kesendirian.
Nina yang kini remaja mulai mengenal yang disebut cinta. Nina juga sering bercerita kepada bunda tentang lelaki yang dapat membuatnya merasakan tenang dan damai dalam hatinya. Bunda hanya terdiam mendengarkan tanpa dapat memberi tanggapan dan ia hanya melanjutkan hidup yang terbuai harapan. Anton, adalah laki-laki yang dimaksudkan Nina. Anton adalah laki-laki yang berlatar belakang hampir sama dengan Nina. Selain itu Anton juga merupakan lelaki yang hidup dengan apa adanya dan ia sama sekali tidak pernah mempermasalahkan keadaan keluarga yang diceritakan Nina kepadanya. Anton mencintai Nina dengan tulus, begitu pun Nina pada saat itu. Disela kesendirian bunda dalam menanti kedatangan suami tercinta, Anton dan Nina semakin menampakkan keutuhan hubungan mereka. Hubungan yang banyak menghadirkan rasa iri dari teman-teman yang mengenal mereka. Bahkan tidak sedikit orang yang mengatakan mereka adalah jodoh karena memandang kemiripan yang ada pada wajah mereka berdua. Hal-hal seperti itulah yang semakin pula memperkuat hubungan yang mereka bina bersama.
Tiga tahun berlalu, disaat ibu masih setia menunggu kehadiran suami tercinta. Cinta Anton dan Nina belum tergoyahkan walau Nina tak jarang mempermainkan cinta dan sayangnya Anton. Namun karena cinta yang tulus dan sayang yang begitu besar dan mengingat setiap pengorbanan yang pernah dilakukan, sesering apapun Nina membagi hatinya kepada laki-laki lain, Anton selalu bisa memaafkan dan mempertahankan keutuhan hubungan mereka. Suatu hari, Anton merencanakan sebuah kejutan yang nantinya akan diberikan kepada Nina pada hari ulang tahunnya yang ke-21. Anton dengan cinta tulusnya mulai menyisihkan sedikit dari uang sakunya yang memang tak banyak untuk ditabung. Hari-hari Anton selalu dihiasi bayangan akan kebahagiaan yang dirasakan Nina ketika nanti ia menerima kejutan darinya. Anton bahkan sering membuat teman-temannya bingung akan kelakuannya belakangan ini. Ia lebih sering tersenyum sendiri dan kata-kata yang keluar dari bibirnya adalah kata-kata yang tidak biasanya. Melihat tingkah Anton yang berbeda dari sebelumnya, Bimo yang merupakan teman baik Anton secara spontan bertanya kepadanya. “Kejutan apa lagi yang akan kamu berikan kepada Nina disaat dia terus-terusan menyakitimu?” ucapnya dengan pandangan sedikit sinis. Anton yang mendengar pertanyaan itu pun dengan tenang menjawab, “Sesering apapun Nina menyakitiku, seperih apapun hatiku, dan sebesar apapun kecewa yang kurasakan. Rasa sayang dan cintaku kepada Nina jauh lebih besar kurasakan dan rasa itulah yang selama ini menguatkanku!”. Bimo tidak berhenti sampai disana, merasa belum puas ia kembali melontarkan kalimat tanya kepada Anton. “Oh yaa, jadi kamu mempertahankan Nina yang selama ini membagi hatinya untuk laki-laki lain hanya karena rasa sayang dan cintamu yang besar? Apa balasan atas besarnya sayang dan cintamu kepada Nina? Nggak ada Ton, nggak ada!” ucapnya kembali dan kali ini ia bertanya dengan raut muka yang kecewa. Seperti pertanyaan pertama, Anton menjawabnya dengan tenang bahkan lebih tenang, “Iya, aku akan terus mempertahankan Nina sampai nanti aku merasa tidak mampu lagi untuk mempertahankan dia di hatiku. Aku juga tidak pernah mengharapkan balasan apapun atas besarnya sayang dan cintaku kepada Nina. Bim, hatikulah yang memilih dia, bukan ragaku. Mungkin itu yang membuat aku melakukan semua ini!”. Lantas apa bedanya dengan kita Bim, kamu yang terus menerus menemaniku saat susah ataupun senang sampai kamu rela mengorbankan jiwa dan ragamu hanya untuk mempertahankanku didekatmu? Balasan apa yang pernah kamu dapatkan dariku atas semua pengorbanan itu Bim? nggak ada Bim, belum ada!!”, ucap Anton kepada Bimo. Bimo yang merasa ditampar oleh perkataan Anton hanya bisa terdiam merenungkan perkataan yang keluar dari bibir Anton. Ia sadar bahwa perkataan Anton terhadap dirinya memang ada benarnya, setiap apa yang kita lakukan tidak sepenuhnya berharap ada balasan. Dan mulai saat itu Bimo tidak lagi berkata apa-apa tentang kelakuan Anton. Melihat Bimo terdiam, Anton tidak tinggal diam. Anton mengajak Bimo untuk pergi ke sebuah toko emas. Anton dan Bimo kemudian memesan sepasang cincin bertuliskan nama Anton dan Nina. Setelah ia selesai memesan, mereka kembali pulang dengan senyuman menghiasi wajah keduanya. Bimo yang tadinya mendesak Anton untuk meninggalkan Nina berubah mendukung dan Anton yang tadinya senang bertambah gembira.
Tiga hari berselang, tepat pada hari ulang tahunnya Nina yang ke-21. Anton pergi ke toko emas yang telah didatangi sebelumnya untuk menebus cincin yang dipesan tiga hari yang lalu. Ketika cincin sudah ditangan, Anton tidak langsung pulang. Ia bergegas memutar laju sepeda motor yang dipinjamnya dari Bimo dan mengarahkannya ke sebuah toko bunga yang jaraknya 20 menit dari toko emas tadi. Disana, ia membeli dua tangkai bunga mawar yang masih segar dan dimintanya si penjual untuk mengemas bunga mawar tersebut dengan rapi. Cincin dan bunga kini sudah ditangan, sekarang tinggal menunggu Nina datang padanya. Nina yang ditunggu akhirnya datang, dan apa yang diberikan Anton membuat Nina merasa sangat bahagia lalu memeluk Anton dengan eratnya. Anton pun merasa senang karena usaha yang dilakukan telah bisa membuat Nina bahagia menerima pemberiannya.
Anton yang bahagia tiba-tiba terkejut mendengar kabar Nina yang telah lima bulan menjalani hubungan secara diam-diam dengan seorang laki-laki yang jauh lebih bisa menjamin hidupnya kedepan dibandingkan Anton yang harus susah payah menabung guna membeli sesuatu untuk Nina. Anton mencari kebenaran akan kabar yang didengarnya, dan ternyata benar. Atas pengakuan Nina sendiri, Anton merasa sangat tersiksa. Siksaan yang dirasakan Anton kian bertambah ketika Nina berkata bahwa ia tidak lagi punya cinta ataupun sayang kepada Anton walau itu Cuma sedikit. Anton yang senyum kini menangis, Anton yang berusaha kini sia-sia, dan Anton yang bahagia kini berduka. Namun apalah daya, Anton dengan berat harus berusaha meninggalkan Nina yang dulu dipatok sebagai calon istri bahkan Nina dengan tenang menyarankan kepada Anton untuk melupakan dirinya sebab Nina telah menemukan Anton yang dahulu pada laki-laki yang bersamanya saat ini. Anton pun dengan terpaksa meninggalkan Nina, tapi tidak hatinya karena dalam hati Anton bahkan yang terdalam sekalipun masih ada Nina yang sulit tergantikan oleh wanita lain.
Seiring waktu terus berlalu, selagi bunda masih setia menunggu, dan selama Nina tenggelam dalam kebohongan yang entah kapan ia memulainya, nyatanya ia telah mahir. Anton sekarang menjalani sisa hidupnya dalam duka yang bercampur kecewa melihat dan mendengar kebahagiaan yang dijalani Nina dengan kekasih barunya. “Bunda, Anton mohon maaf atas semua kesalahan Anton selama bersama Nina dan Anton bangga telah sempat menjadi bagian dari keluarga bahagia ini”, ucap Anton kepada bunda Nina dalam satu pesan singkat bersama airmata yang membasahi pipinya. Bunda hanya terdiam saat mengetahui semuanya dan berdoa untuk kebaikan mereka berdua. Semoga doa bunda dapat dikabulkan oleh Tuhan, seru Anton dalam hati yang masih berharap sambil melangkahkan kaki lalu pergi.
Demikianlah kisah Anton dan Nina yang berhasil diabadikan dalam ingatan dan dituangkan dalam bentuk tulisan oleh sang penulis cerita dalam “Kesetiaan Separuh Jalan”. Semoga kisah ini dapat memberikan manfaat bagi setiap kita yang menyempatkan diri membacanya. Amin Yaa Rabbal Alamin…
Wabillahitaufik Wal Hidayah…
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Cerpen Karangan: Nicki R. Alpanchori

Tidak ada komentar:

Posting Komentar