Jumat, 15 November 2013

Cerpen - Secret of Love

Masa SMA memang dapat di katakan masa indah, ya di katakan seperti itu karena banyak cerita yang tidak dapat di lukiskan dengan kata-kata terutama dengan “cinta”. Banyak sekali cerita cinta yang terjadi di antara mereka. Senang, sedih, tawa dan galau jadi satu. Begitulah masa-masa SMA zaman sekarang.
Terkadang, tak sedikit di antara mereka berpikir bahwa persahabatan itu lebih indah di banding pacaran. Itulah yang terjadi pada Raisa dan Sania, mereka selalu bersama baik suka maupun duka. Semasa 2 tahun di SMA, mereka belum pernah merasakan apa itu cinta. Mereka memiliki janji tidak akan jatuh cinta pada laki-laki yang sama jika suatu saat mereka menemukan cinta.
Mengikuti pelajaran di kelas selama beberapa jam, membuat mereka merasa jenuh. Akhirnya, pada jam istirahat mereka memutuskan untuk pergi ke taman sekolah “Sania, ke taman yuk.. aku bosan di kelas” dengan menggandeng tangan Sania. Di tengah canda tawa mereka di taman, tiba-tiba saja ada sesuatu yang mengalihkan perhatian mereka berdua. Ternyata, mereka melihat dua orang lelaki tampan datang dan duduk di sebelah mereka. Raisa dan Sania saling berbisik “eh Sania, liat deh pinggir kamu. Mereka tampan ya”, “ah kamu itu, kita lanjutin ngobrol yang tadi aja” ucap Sania sambil mengalihkan perhatian Raisa.
“teeng..teeeng..!”
Akhirnya, bel masuk pun berbunyi, ketika Raisa dan Sania akan beranjak dari tempat duduk mereka menuju kelas, tiba-tiba saja Sania melihat gelang pemberian orang tuanya yang melingkar di tangannya itu lepas. Raisa membantu Sania mencari gelangnya yang jatuh itu. “Raisa, bagaimana ini? Gelang itu pemberian orang tuaku. Aku tak ingin gelang itu hilang”. Mereka terus saja mencari gelang itu. Karena Raisa merasa sebentar lagi guru akan memasuki kelas, akhirnya Raisa memaksa Sania untuk masuk ke kelas dan mencarinya kembali pulang sekolah nanti. “Sania, kita masuk ke kelas dulu ya. Nanti pulang sekolah kita cari lagi”, “ya sudah lah..”
Di tengah pelajaran, Sania bertanya pada Raisa “Raisa, gelang aku pasti ketemu kan?” dengan suara berbisik, “iya, kamu tenang aja. Aku pasti bantuin kamu nanti”. Waktu yang di tunggu Sania akhirnya datang juga. Lekas Sania menarik tangan Raisa untuk segera kembali ke taman mencari gelang Sania tersebut. “aku yakin pasti di sekitar sini”. Mereka terus saja mencari gelang itu. Namun, di tengah pencarian dua lelaki yang mereka temui pada saat istirahat menghampiri mereka. “eh Sania, itu kan mereka yang tadi istirahat ada di sini”.
“kalian cari ini?” ucap salah satu di antara lelaki itu. “iya, itu milik aku. Tapi, kenapa gelang ini ada di kamu?” sambil menggenggam gelang tersebut. “aku menemukannya pada saat istirahat tadi”, “terimakasih..” ucap Sania. “kenalin, aku Mikha dan ini sahabat aku Rian” sambil menjulurkan tangan. Sania membalasnya dan berkata “aku Sania dan ini sahabat aku Raisa”.
Di situlah awal pertemuan mereka…
Ketika Sania bertemu dengan Rian, sepertinya Sania jatuh cinta pada pandangan pertama. Sania tak sabar akan menceritakannya pada Raisa. Keesokan harinya ketika Sania sampai di sekolah, ia bergegas ke kelas menemui Raisa untuk menceritakan perasaannya tentang Rian. Langkah demi langkah di lewati Sania dengan senyuman karena perasaannya yang berbunga-bunga itu. Ketika sampai “Raisaa..!”, “eeh, Sania..”. Raisa heran dengan sikap Sania yang begitu senang “ada apa denganmu Sania? Kenapa kamu begitu senang?” “tidak apa apa, aku hanya senang aja” Raisa semakin penasaran. “oh ya Sania, hari ini aku ingin menceritakan sesuatu sama kamu, tapi jangan bilang siapa-siapa ya?”, “cerita apa? Aku juga ingin menceritakan sesuatu sama kamu. Tapi, kamu duluan deh..”
Akhirnya, Raisa lah yang bercerita “kamu ingat, lelaki yang menemukan gelangmu di taman kemarin?”, “iya, aku ingat. Memang ada apa?” Sania mulai penasaran. “aku menyukai salah satu di antara mereka” mendegar pernyataan Raisa, Sania pun semakin penasaran dan langsung bertanya “siapa di antara mereka yang kamu cintai?”, “tapi kamu janji ya, gak akan katakan ini pada siapa pun? Lelaki yang aku cintai, adalah Rian”. Dalam hati, Sania begitu terpukul mendengarnya “Rian??”. Sania ingat dengan janji mereka tidak akan mencintai lelaki yang sama.
“Sania? Apa yang akan kamu ceritakan? Ku lihat sepertinya kamu bahagia. Ayoo cerita..” menatap Sania sambil tersenyum. “cerita? Emmh.. kayaknya cerita aku gak seseru cerita kamu. Udah ah, lupain aja. Ciee, yang lagi jatuh cinta”, “udah ah, aku jadi malu. Nanti istirahat, ke taman lagi yuk?”, “iyaa..”.
Ketika istirahat…
“Sania, kira-kira Rian ada di mana ya? Kok gak muncul-muncul?” dengan wajah penasaran. “kita tunggu aja, nanti juga datang”. “ehh, itu Rian..!”. Mata Raisa dan Sania tertuju pada Rian dan Mikha. “hai, kita ketemu lagi” ucap Rian. “boleh gabung?”, “boleh aja” ujar Raisa sambil tersenyum. Rian duduk di sebelah Raisa dan Mikha duduk di sebelah Sania. Dalam hati Sania berkata “sepertinya Rian juga menyukai Raisa. Mereka berdua saling mencintai. Lebih baik aku menyembunyikan perasaanku dari Raisa”. Mikha mengajak Sania pergi ke kantin membeli makanan ringan. “Sania, gimana kalau kita beli minum di kantin?”. Melihat Raisa senang bersama Rian, Sania pun menerima tawaran Mikha. Kini, Sania harus benar-benar mengalah dengan perasaannya.
“Sania, ini minumnya. Emmh, kamu bersahabat dengan Raisa berapa lama?”, “sudah dua tahun ini”. Di tengah pembicaraan mereka, tiba-tiba Disca wanita yang mengejar cinta Mikha semenjak kelas satu itu datang. “Mikha.. kamu kemana aja sih, aku kan kangeen.. eh! ini siapa? Berani-beraninya kamu dekat-dekat Mikha. Dia milik aku tau!” ucapnya ketus di hadapan Sania. Tak tahan melihat tingkah Disca, Mikha pun langsung menarik tangan Sania dan pergi meninggalkan Disca sendiri “hentikan perkataan murahmu itu!”. Mendengarnya, Disca pun kesal dan memiliki rasa dendam pada Sania.
Karena penasaran, Sania bertanya pada Mikha “tadi itu pacar kamu?”, “bukan, dia bukan siapa-siapa”. “kenapa dia begitu marah?”, “itu memang kebiasaannya. Oh ya, atas perkataan Disca tadi jangan kamu masukin ke hati yaa?”. Sania hanya tersenyum. “pacar kamu gak marah, kamu jalan berdua gini sama aku?” mendengarnya Sania hanya tersenyum “pacar? Aku belum pernah merasakan apa itu cinta. Tapi, ketika aku merasakan cinta itu hadir, aku harus pergi”, “pergi? Maksud kamu?”, “sudahlah, lupakan saja”.
Ketika bel pulang sekolah berbunyi, Raisa dan Sania berjalan menuju gerbang sekolah. Tapi, Rian menghampiri Raisa dan mengajaknya pulang bersama “Raisa, pulang sama aku ya” mendengarnya, Raisa bingung harus menjawab apa, karena di sisi lain Raisa harus menemani Sania pulang. Akhirnya Sania membiarkan Raisa pulang bersama Rian. Dalam hati Raisa berkata “aku harus sabar”. kini, Sania berdiri sendiri menunggu mobil jemputannya datang. Melihat Sania berdiri sendiri di depan gerbang, Mikha menghampiri dengan motornya yang besar dan keren itu. Mikha memang tergolong siswa keren di sekolah seperti Rian.
“Sania, kamu sendiri? Dari pada menunggu lama, lebih baik kamu pulang saja denganku”, “tidak, aku menunggu mobilku datang saja”. “Baiklah, kalau begitu aku akan menunggumu di sini”. Sania bingung melihat tingkah Mikha yang begitu peduli terhadap dirinya. “Nah, itu mobil kamu?”, “iya, kalau begitu aku pulang duluan. Terimakasih ya?”, Mikha hanya tersenyum.
Malam hari, Sania membuka jendela kamarnya melihat bintang-bintang dan bulan sambil berkata “Bintang, saat ini aku bingung dengan perasaanku. Aku sangat menyukai Rian, namu di sisi lain sahabatku sendiri juga menyukainya. Apa yang harus aku lakukan? apa aku harus terus menutupinya? Hati ini begitu hancur. Aku ingin ada seseorang yang bisa mencintaiku apa adanya”
Keesokan harinya di sekolah, Sania dan Raisa bingung dengan keramaian yang terjadi di dekat kelas “Sania, kok tumben rame banget? ada apa ya?”. Akhirnya mereka berdua pun mendekat, ternyata Disca sedang membagikan undangan pesta ulang tahunnya nanti malam. “pokoknya kalian semua wajib datang! Nanti malam akan menjadi hari spesialku, jadi kalian jangan lupa pakai gaun yang indah” ucap Disca pada semua siswi di sekolah. Disca melihat kedatangan Sania, langsung saja Disca mengampiri Sania dan berkata “eeh elo! elo yang kemarin itu kan deket-deket Mikha pacar gue! Awas loe, berani-berani deketin dia lagi! oh ya, nih loe dan temen loe itu bakal gue undang di pesta gue nanti malem. Awas loe, kalo macem-macem!”. Raisa sangat kesal atas perkataan yang di lontarkan Disca pada Raisa. “kamu tidak apa-apa kan? dasar nenek lampir. Lebih baik, kita gak usah datang ke pestanya dia deh”, “sudahlah, aku tak apa. Kita datang saja, menghargai undangannya”.
Sore hari telah tiba, Sania bingung harus mengenakan gaun apa. Saat Sania sibuk mencari gaun dalam lemarinya itu, hp Sania berbunyi, Sania mendapat sms dari seseorang yang menyuruh Sania melihat ke depan pintunya. Karena penasaran, Sania bergegas melihat ke depan pintu, ternyata ada sebuah kotak besar dan di lihatnya ada gaun indah berwarna putih. Sania sempat bingung “ini kiriman dari siapa?”. Ketika Sania masuk kembali ke dalam kamar, Sania kembali mendapatkan pesan yang tertulis “kenakan gaun itu, pasti kamu akan terlihat cantik”. Sania masih saja bingung, karena tidak tertera nama pengenal siapa pengirim gaun itu.
Malam hari pun tiba, Sania bersiap-siap untuk berias. Ketika akan mengenakan gaun itu, Sania sempat merasa ada yang aneh. Pengelihatannya sedikit kabur, kepalanya terasa berat. “ada apa denganku?”. akhirnya, Sania berangkat ke pesta itu bersama Raisa. “Sania, kamu cantik sekali mengenakan gaun itu..”, “kamu bisa saja, kamu juga cantik Raisa”.
Kedatangan mereka bersamaan dengan kedatangan Rian dan Mikha. Melihat Raisa dan Sania yang begitu anggun dan cantik, Rian langsung menggandeng tangan Raisa dan masuk ke dalam pesta. Sedangkan Sania yang melihat hal itu, begitu sakit. Mikha pun mengajaknya masuk ke dalam. Sesampainya di dalam, Mikha dan Sania menghampiri Disca untuk mengucapkan selamat. Tapi, sungguh di luar dugaan, Disca langsung menampar Sania di hadapan Mikha dan teman-temannya yang lain, karena Disca memiliki dendam pada Sania yang terus saja berdua dengan Mikha.
“apa-apaan kamu! apa yang kamu lakukan Disca! Keterlaluan! ingat, mulai detik ini jangan pernah kamu dekati aku lagi dan jangan lagi kamu sebut namaku!” ucap Mikha dengan rasa kesal. Sania yang malu dan sakit hati, langsung pergi keluar meninggalkan pesta. “Sania…Sania..!” teriak Mikha. Sania terus saja berlari meninggalkan pesta. Ketika Sania berlari meninggalkan pesta, Raisa dan Rian menghadang langkah Sania. Melihat tangan Raisa dan Rian berpegangan, Sania bertanya “kalian pacaran?” sambil menahan air mata. Raisa tak bisa menyembunyikan hal it terus menerus dari Sania, Raisa pun menjawab “ya, kami sudah pacaran Sania. Maaf kalau aku baru cerita sekarang”. Mendengarnya, air mata Sania tak dapat terbendung lagi, Sania hanya bisa mengatakan “selamat untuk kalian berdua” sambil meneteskan air mata.
“Sania..! kamu mau kemana? Di luar sedang hujan”, Sania tak menghiraukan perkataan Mikha. Sania pun meninggalkan Mikha, Raisa dan Rian.
Sania terus berlari di tengah hujan deras tanpa bulan dan bintang. Sania berlari dan berkata dalam hati “kini perasaanku begitu hancur! aku tak tau harus berbuat apa, cintaku benar-benar hilang”. Sania menghentikan langkah kakinya dan berteriak “aku lelah! Kemana kalian bulan dan bintang! mengapa kalian bersembunyi di saat perasaanku hancur!”.
“aku akan menjadi bulan sekaligus bintang di hatimu yang hancur itu!”. Sania yang terus meneteskan air mata itu menoleh ke arah belakang, ternyata “Mikha..”. Mikha mengikuti langkah kaki Sania yang hanya di temani oleh guyuran hujan itu. “AKU MENCINTAIMU” teriak Mikha. Sania hanya menangis dan berkata “tapi aku tidak mencintaimu. Kini, aku tak punya cinta. Perasaanku hancur! berhentilah mendekatiku, kamu tidak akan bahagia bersamaku. Ada satu hal yang tak akan pernah kamu ketahui tentang diriku. Jauhi aku!”. Air hujan masih saja membasahi mereka. “Tidak! Aku tidak akan berhenti mencintaimu”. Sania hanya dapat menangis, namun di tengah isak tangisnya itu Sania melihat tetesan darah yang keluar dari mulutnya dan Sania terjatuh tak sadarkan diri.
“SANIA..! SANIAA.!”
Mikha membawanya ke rumah sakit, Mikha terus menunggu Sania di ruang tunggu. Ketika dokter yang memeriksa Sania keluar, Mikha langsung bertanya “bagaimana dok? Apa yang terjadi pada Sania?” tanyanya panik. “sebenarnya, Sania adalah pasien lama kami. Setiap sebulan sekali dia check up di rumah sakit ini, dia menderita penyakit kanker hati. Sampai sekarang, kami belum menemukan congkak hati yang cocok untuk Sania”. “apa dok? Kanker hati?”. Mikha benar-benar kaget mendengarnya. Kini, Sania mengalami masa kritis.
Saat menunggu Sania, tiba-tiba saja Mikha melihat Rian pingsan dengan wajah yang sangat pucat di bawa oleh dokter ke dalam ruang ICU. Sebenarnya, Mikha dan Raisa sudah mengetahui penyakit Rian sejak beberapa hari lalu karena Rian yang menceritakannya sendiri. “kenapa Rian bisa seperti ini?” Tanya Mikha pada Raisa “entahlah, dia terjatuh pingsan tak lama ketika Sania pergi dari pesta. Bagaimana dengan keadaan Sania?”. Keduanya begitu bingung, “Sania kritis, dia mengidap penyakit kanker hati”, “apa?! Kanker hati? Kenapa Sania tak pernah menceritakannya?”.
Ketika Rian mulai sadar, Rian berkata pada Mikha “makasih, loe udah jadi sahabat yang paling baik, gue titip orang yang gue cinta. Tolong jaga dia. Makasih..”. Rian juga berkata pada Raisa “makasih ya,” ucap Rian sambil tersenyum. Ternyata itu perkataan dan senyuman terakhir Rian. Kini, Sania belum mengetahui kepergian Rian untuk selamanya. “RIAN..! RIAAN.!”
Hari demi hari terlewati begitu pula dengan penyakit Sania yang kunjung membaik. Akhirnya, Sania mulai sadarkan diri, ketika Sania sadarkan diri, Sania melihat Raisa dan Mikha ada di sampingnya. Tapi Sania bingung karena taka da Rian di sana yang seharusnya bersama Raisa “Di mana Rian?”. Tak kuasa menyembunyikan semuanya dari Sania, akhirnya Raisa memberikan surat yang di titipkan Raisa untuk Sania yang berbunyi…
“Sania..
Mungkin, saat kamu membaca surat ini, aku sudah tak ada lagi..
Aku sangat bahagia bertemu denganmu.. kamu ingat gelangmu yang hilang terjatuh? Aku menemukannya dan aku berikan pada Mikha untuk memberikannya padamu.. kamu ingat saat istirahat aku duduk di samping Raisa? Aku sengaja melakukannya agar kamu cemburu.. kamu ingat saat pulang sekolah aku mengajak Raisa pulang bersamaku? Aku sengaja melakukannya agar kamu kesal padaku.. kamu ingat kotak berisi gaun putih tanpa tanda pengenal? Itu aku.. dan kamu ingat saat aku menggenggam tangan Raisa di depanmu ketika kamu akan meninggalkan pesta? Aku sengaja melakukannya agar kamu membenci dan melupakanku.. aku lakukan itu semua karena aku tau, kamu mencintaiku.. tapi aku tak mungkin bisa bersamamu, karena hidupku tak lama.. Kini, ku berikan cangkok hatiku untukmu.. Kamu harus bisa bertahan.. Dan kini, ada bagian dari tubuhku di dalam tubuhmu.. Mikha sangat mencintaimu dengan tulus Sania.. terimalah dia..
“aku mencintaimu..”
Rian.
Membaca surat dari Rian, Sania menangis dan berkata “ini tidak mungkin..!”. Ketika keadaanya mulai memulih, Sania di perbolehkan pulang. Namun Sania meminta pada Mikha dan Raisa untuk mengantarkannya ke makam Rian. Di sanalah, Sania bersandar di batu nisan Rian dan menangis tiada henti. Melihat keadaan Sania yang tak berdaya itu, Mikha dan Raisa hanya dapat terdiam. Raisa sangat merasa bersalah karena telah membohongi Sania dengan menjadi pacar Rian. Sania tau, Rian pasti bahagia di sana, akhirnya Sania berkata pada batu nisan Rian “mungkin kamu bukanlah jodohku..”. Aku akan menerima cinta Mikha dan mencoba bahagia bersamanya..
Minggu, 28 April 2013
Cerpen Karangan: Dea Fahro Tudzurriah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar