Jumat, 15 November 2013

Cerpen - Waiting For The Time

Waktu berjalan begitu cepat. Dahulu Anggun begitu memuja-muja Reva meskipun mereka belum saling mengenal. Sejak pertama kali bertemu, Anggun sudah merasakan sesuatu yang beda. Akan tetapi Anggun selalu bersabar menunggu saat dimana mereka akan saling mengenal. Momen itu terasa begitu lama datangnya. Hingga suatu saat seorang sahabat Anggun saling memperkenalkan mereka.
Namun kisah cinta ini belum berakhir sampai disitu. Sejak mereka saling mengenal, mereka harus melakukan suatu tahapan menuju jenjang cinta, yaitu ‘PDKT’ alias pendekatan. Tahap ini berjalan begitu sangat lama pula, berlangsung hingga 3 Tahun. Anggun pun merasakan Reva yang sepertinya mustahil untuk jatuh hati padanya. Akhirnya Anggun memutuskan untuk menyerah menunggu Reva, dan memutuskan untuk fokus ke UN SMK yang sudah di depan mata. Walaupun begitu Anggun dan Reva masih tetap saling berkomunikasi jarak jauh seperti biasa.
Finally hari kelulusanpun tiba, seluruh siswa berkerumunan saling berdesakan di papan pengumuman, untuk melihat hasil UN. Fortunately! Enggak ada yang terlihat menangis stelah melihat papan pengumuman. Itu berarti enggak ada yang enggak lulus. Saat itu kami semua sangat bahagia, namun juga sangat bersedih karena kita akan meninggalkan masa putih abu-abu. Kita akan mencari jenjang yang lebih tinggi bisa kerja maupun kuliah.
Saat hari kelulusan itu hampir seluruh siswa terutama laki-laki yang mencoret-coret baju mereka, dengan berbagai tanda tangan dan sepidol yang berwarna-warni pula. Sekarang tak ada lagi yang namanya saling mencontek, saling lempar tipeks, saling nongkrong depan kelas, jailin guru, dihukum guru di depan kelas dll. Begitu cepat waktu berlalu.
Suatu malam, terlihat Anggun yang sedang berada di jendela dan sedang memandangi langit malam. Malam itu Anggun sedang membayangkan Reva. Walaupun hari ini dia bahagia karena telah lulus, namun terasa ada yang kurang, hingga membuatnya gundah gulana sperti itu. Kemudian terdengar alunan lagu pilihan hati dari Geisha yang membuyarkan lamunannya. Anggun tahu bahwa yang mengeluarkan suara itu adalah poselnya. Lalu dia merogoh ponsel yang berada di atas kasurnya. Sembari menatap layar ponselnya, dia melongo, ternyata yang memanggilnya adalah cowo yang dipujanya sedari kelas 1 SMK. Dengan jantung yang tiba-tiba begetar Segera ia menekan tombol hijau. Tiiit…
“hallooo… malem putri mammoth” terdengar suara Reva di seberang sana yang biasa memanggil Anggun dengan sebutan Putri Mammoth, entah apa yang ada dipikiran Reva saat menciptakan nama hewan purba itu.
“ya haloo kak Reva, tumben nelpon, kenapa kak?”
“kamu udah lulus ya? Congratulation for your success darling!!!” ucap Reva yang memberikan selamat pada Anggun.
“thanks kak, kakak nelpon aku Cuma mau ngomong gitu aja?”
“hmmm… ya enggaklah sayang, aku juga mau ngomong sesuatu sama kamu”
“apaan kak?”
“hmmm, sebenernya… aku suka sama kamu dari dulu, tapi karena nungguin kamu lulus dulu aku baru mau nembak kamu” tuturnya dengan nada yang berkesan.
Mendengar ucapan itu jantung Anggun udah seperti mau loncat-loncat keluar. Anggun seakan terbius, dan tak bisa ngomong apa-apa. Ternyata bener yang dibilang temen-temennya. Reva pasti Cuma mau nungguin dia lulus dulu, karena Reva sudah kerja. Reva pasti memikirkan keadaan juga saat Anggun masih sekolah, dia tidak mau mengganggunya.
“kenapa diem? Apa kamu udah punya pacar saat ini?”
Anggun segera sadar “ahh… be.. belum kak” kata-kata Anggun terpatah-patah.
“lalu kamu apa nggak terima cinta aku Nggun?”
Tanpa pikir panjang dan bagaikan terhipnotis Anggun bilang “ya tentu kak.”
“aku.. aku juga suka kakak dari pertama aku lihat kakak” tutur Anggun.
Kini kebahagiaan Anggun telah bertambah dengan adanya Reva sebagai pacarnya.
Mereka sudah menjalin hubungan sudah hampir setahun. Dan selama itu mereka memutuskan bekerja di tempat yang berbeda, agar tidak ada personal problem di tempat kerja. Meskipun mereka harus jarang bertemu, karena keduanya memiliki kesibukan tersendiri. Tapi mereka tetap saling menghubungi dan mempercayai satu sama lain.
Beberapa bulan hubungan masih berjalan baik-baik saja. Namun suatu hal yang manis tidak akan selamanya bertahan, kata pepatah tak ada yang abadi. Begitu juga dengan suatu hubungan pasti ada pahit manisnya karena live is never flat. Entah apa telah yang terjadi, suatu saat tiba-tiba Reva mengajak Anggun ke Taman Kota.
“Anggun kamu tahu enggak kenapa aku ngajak kamu ke tempat ini tiba-tiba?” tanya Reva mengawali percakapan.
“enggak, ada apa kak? Kakak mau ngomong sesuatu?”
Reva terdiam namun Anggun menyadari raut wajah kekasihnya itu memancarkan kesedihan, dia terlihat berkaca-kaca namun Anggun yakin dia pasti sedang menahan air mata itu menyentuh pipinya.
“kak, ada sesuatu yang kakak sembunyiin? Kenapa wajah kakak tampak sedih dan pucat, tak seperti biasa, kakak sakit?” tanya Anggun yang heran melihat pacarnya, kemudian menjulurkan tangannya dan menyentuh kening Reva untuk merasakan suhu tubuh Reva.
“enggak sayang, aku enggak sakit, aku baik-baik aja, Anggun…” Reva menggantung kalimatnya. Anggun hanya sedikit memiringkan kepalanya heran.
“kamu masih sayang sama aku?” sambung Reva.
“tentu saja kak, kenapa kakak nanya kaya gitu, kakak udah enggak sayang sama aku lagi?” Anggun merasakan feel yang aneh saat mendengar pertanyaan kekasihnya.
“Anggun gimana misalnya kalau suatu saat nanti kita berpisah karena sesuatu?” Reva tak menjawab pertanyaan Anggun, malah melontarkan pertanyaan yang aneh lagi.
“kenapa nanya gitu lagi? Apa kakak mau putusin aku? Kenapa? Ada masalah apa? apa kakak udah punya cewe lain?”
“bukan gitu Anggun, aku masih sayang banget sama kamu,dan enggak ada sedikit pikiran terlintas untuk mencari cewe lain, bahkan aku sempat berfikir untuk menjadikanmu yang terakhir dalam hidupku” tutur Reva yang terlihat sangat serius dan penuh makna.
“tapi Nggun, ada masalah besar antara kita”
“masalah besar apa?” tanya Anggun spontan. Lalu Reva menarik nafas panjang sebelum menjawab, seakan dia menghadapi sesuatu yang menegangkan.
“orang tuaku… enggak menyetujui hubungan kita”
“apa?” Anggun sangat shock mendengar pegakuan itu.
“tapi kenapa, bukannya ibumu udah tau aku? Kita kan satu Desa, apa yang membuat ibu seperti itu?” sambung Anggun.
“bukannya dia enggak setuju Nggun, tapi dia trauma akan kejadian yang dulu menimpa ayahku, dia takut itu akan terjadi”
“kamu pernah denger kan keyakinan orang-orang desa, bahwa pria dari desaku enggak boleh menikah dengan gadis dari desamu” Reva menjelaskan cerita takahayul di Desak mereka, yang katanya bila gadis dan lelaki antara desa mereka menikah maka yang wanita akan menjadi janda secepatnya, seperti halnya yang telah terjadi pada ibu Reva. Tapi Anggun selalu berfikir itu hanyalah mitos belaka.
Garis hidup seseorang hanya diatur oleh Tuhan, bukan manusia yang percaya begitu saja dengan apa yang mereka dengarkan. Seseorang pasti akan mengakhiri hidupnya dengan kematian, jika tidak sekarang mungkin besok atau suatu saat nanti, tapi kita tidak tahu.
“lalu, apa kita mesti percaya mitos seperti itu?” Anggun yang sepenuhnya sangat tidak menyetujui keputusan itu.
“aku memang enggak percaya, tapi ibuku sangat mempercayainya karena dia yang mengalaminya, ibu ditinggal ayah saat ku masih dalam kandungan” tutur Reva menjelaskan, dia memang sangat menyayangi ibunya, hal itu salah satu yang membuat Anggun mengaguminya selain ketampanannya.
“tapi ku yakin itu hanyalah takdir Tuhan, dan semua orang pasti akan mengakhiri hidupnya dengan kematian, aku enggak mau pisah dengan kakak aku sayang kakak.” Anggun mulai terlihat sangat ketakutan untuk berpisah dengan Reva.
“ya, aku pun sama sepertimu, tapi aku enggak berani menentang ibu, dia yang telah membesarkanku tanpa peran seorang suami”
“baiklah kak, aku mengerti, jangan pernah menentang ibumu kak” ucap Anggun dengan mata berkaca-kaca, namun ia langsung berlari agar tak dilihat Reva. Namun Reva mengejar dan menarik Anggun ke dalam pelukannya. Saat itu langit diselimuti awal tebal. Kemudian jatuhlah butir-butir air dari langit, yang membasahi mereka berdua di taman kota.
“Anggun maafkan aku, aku enggak bisa mempertahankan cinta kita, aku memang pengecut, aku enggak bisa berbuat apa-apa” aku Reva
Anggun hanya terdiam dalam pelukan Reva, dia tetap menangis.
“Aku enggak bakal nyari pengganti kakak” bisik Anggun dalam benaknya.
Kemudian Reva melepas pelukannya. “kamu jangan nangis lagi ya, kamu pasti dapat yang lebih baik dari aku” kata Reva sambil mengusap air mata yang di wajah Anggun yang sudah berbaur dengan air hujan. Kemudian mencium kening, mata dan bibir Anggun. Anggun membiarkannya, dia hanya terdiam.
Semenjak kejadian malam itu, hidup Anggun mulai berubah. Anggun yang biasa terkenal jail dan ceria, kini berubah menjadi Anggun yang pemurung, pendiam, dan tak pernah tertawa, meski itu hanya untuk tersenyum sedikit. Semakin hari wajahnya semakin pucat lesu. Hingga akhirnya kondisinya semakin memburuk, jatuh sakit dan harus di opname.
Seminggu ini Anggun koma di rumah sakit, dan seperti biasa ibunya selalu berada di sisi anaknya. Ibu Anggun sangat terkejut saat melihat anaknya tiba-tiba mengigau “Kak Reva… kak reva… kak Reva!!!”. Lalu Ibunya segera memanggil dokter.
Setelah diperiksa, Dokter mengatakan bahwa suhu tubuh Anggun sangat tinggi, detak jantungnya juga tidak teratur, lalu dokter menyuruh Ibu memanggil Reva. Sebenarnya, Anggun memang mempunyai penyakit jantung, namun sudah lama tak pernah kambuh, sampai sekarang ini.
Keesokan harinya Anggun sadar dari komanya. Dia membuka matanya secara perlahan, dan melihat sekeliling.
“Ibu!!!” anggun melihat ibunya tertidur di sampingnya. Air matanya mulai mengalir, dari ujung mata membasahi pipinya.
“kamu udah sadar sayang” ibu Anggun terbangun, Anggun segera mengusap air matanya yang membalut wajahnya. “ibu, udah makan, pasti belum, ibu pulang aja ya, aku nggak apa kok sendiri”
“Tapi nak…” perkakataan ibu diputus” uda nggak apa kok bu…”
“ya sudah, ibu pulang ya, ayahmu pasti juga udah mau pulang sekarang” sebelum pulang ibu mencium kening Anggun.
Beberapa hari di Rumah sakit, sosok yang diharapkannya datang tak kunjung datang menghampirinya. Semakin hari harapannya semakin pupus bersamaan dengan kondisinya yang semakin melemah.
Di suatu malam Anggun tersadar, dia memandang sekelilingnya, tak ada siapa. Saat itu semua keluarga tidur di luar ruangan Anggun.
“Tuhan, inikah akhir hidupku?” Anggun tak dapat membendung air matanya, mengalir begitu saja menyiram wajahnya yang pucat pasi.
“apa arti kesetiaan saya selama ini? Apa salah saya? Mana keadilanmu? Sedari kecil saya selalu menderita, dan kini saya harus terluka lagi, entahlah, apa gunanya saya di dunia ini?” sedu Anggun dalam hati.
Keesokan harinya, kondisi Anggun sangat memprihatinkan, seakan tak ada harapan hidup lagi. Detak jantungnya semakin meningkat, sang ibu sangat gelisah, ketika menyaksikan sang anak yang sedang ditangani Dokter.
Saat dokter sedang memeriksa Anggun, Reva tiba-tiba datang. Seiring keluarnya dokter, Reva pun sampai di antara keluarga Anggun.
“Bu, gimana keadaan Anggun?” tanya Reva pada Ibu Anggun.
“begitulah Va, kondisi Anggun sangat buruk sekali” ucap Ibu sambil meneteskan air mata.
“Ibu, kita harus terus berdoa dan berdoa, jangan menyerah, masih ada harapan” kemudian dokter selesai menangani Anggun. Saat dokter keluar dari ruangan Anggun, Ibu dan Reva menghampirinya.
“gimana dok, Anggun nggak apa-apa kan?” tanya ibu.
Dokter hanya menjawab dengan gelengan kepala.
“dok anak saya baik-baik saja kan dok?” tegas ibu sekali lagi,
“semua sudah kami lakukan semaksimal mungkin, namun…” Dokter menggelengkan kepalanya lagi.
“apa?” ibu langsung pingsan setelah mendengar semua itu, kemudian dokter membawanya ke ruang pengobatan. Sementara Reva masuk ke ruangan Anggun. Dia menuju sisi Anggun, kemudian menggenggam tangan Anggun.
“Anggun… bangun sayang, bangun!! Ini Reva, ayo bangun, kamu sayang aku kan?, please jangan tinggalin aku, Nggun!!!” teriak reva sambil mengguncang Anggun. Kini Reva benar-benar menangis, lalu ia memegang kepalanya sendiri dengan kedua tangannya sambil menangis.
Lalu…
“Kak Reva…” Reva mendengar suara itu, lalu ia membuka matanya, benar, ternyata Anggun yang memanggilnya.
“Anggun!! Kamu masih Hidup” Reva langsung terbangun dari duduknya, dan mengelus pipi Anggun.
“ya, hanya untuk bertemu kakak” jawab Anggun.
“aku panggil dokter dulu”
Baru akan berbalik badan…
“kak tunggu!!” sambil memegang tangan Reva.
Lalu Anggun meletakkn jari telunjuk kanannya di bibir.
“kak, aku hanya sebentar, hanya 15 menit, aku udah menunggu saat ini, aku nggak mau semua tahu” ucap Anggun
“kamu jangan ngomong gitu, kamu akan tetap bersama kakak” Anggun hanya tersenyum lalu berkata “aku mencintaimu, sangat mencintaimu, dimanapun aku berada akan selalu mencintaimu”
“aku juga mencintaimu” balas Reva
“kak, aku.. aku nggak mau kakak menentang Ibu kakak, demi aku, aku akan selalu melindungi dan menyayangi kakak” tutur Anggun
“nggak, kamu harus tetap hidup sama aku, kamu nggak boleh pergi!”
Tiba-tiba, nafas Anggun tersedat, detak jantungnya meningkat, namun masih bisa ngomong patah-patah.
Reva memeluknya dengan erat, seakan tak akan melepaskannya. Anggun juga membalasnya.
“Aku.. mencintaimu… kak”
“aku juga, sangat mencintaimu”
“semoga kau bahagia kak” kemudian Reva merasakan pelukan Anggun semakin merenggang, lalu perlahan tangan Anggun terlepas dari tubuhh Reva.
“Anggun… Anggunnn!!! bangunnnn!!! Kamu nggak boleh pergi!!!´teriak Reva sambil mengguncang tubuh Anggun. Namun Anggun tetap terdiam dengan mata tertutup, tapi seulas senyum tersungging di bibirnya. Bagi Reva, itu adalah senyum termaniis yang pernah dilihatnya, dan tak ada yang memilikinya selain gadis yang saat ini berada di pelukannya.
THE END
Cerpen Karangan: Desak Putu Alit Santiani

Tidak ada komentar:

Posting Komentar