Jumat, 15 November 2013

Cerpen - Dekapan Terakhir

“Anella…!!!”
Seruan itu terdengar dari kejauhan, seruan seorang lelaki bertubuh tinggi yang sekarang tengah berlari ke arah perempuan yang sekarang sudah terkulai di bawah tak sadarkan diri.
Algi, dia adalah lelaki pujaan Anella yang setia menemaninya di saat ia sedang sakit maupun sehat.
“An, bangun an…” getir Algi menepuk-nepuk wajah Anella yang putih bersih seperti bayi
Namun, Anella belum juga sadarkan diri.
Segera Algi membopong tubuh Anella yang kurus kecil ke dalam mobilnya, dan di bawanya Ia segera ke Rumah Sakit Bakti Husada Bogor.
Sesampainya di rumah sakit, Algi cepat-cepat menghubungi mama nya Anella. Kebetulan Ayah Anella sudah meninggal dunia sejak Anella duduk di bangku SMP. Tak lama kemudian Bu Risti ibunya Anella pun datang ke rumah sakit dengan perasaan cemas tak karuan.
“Anella gimana al? dimana dia sekarang?” Bu Risti terlihat sangat cemas
“Tante tenang dulu yah, Anella lagi dalam pemeriksaan dokter. kita tunggu aja dokternya keluar.” jawab Algi mencoba menenangkan
“Astagfirullah al, kasian Anella..” Bu Risti menghela nafas
Bu Risti duduk bersandar, Algi mengerutkan dahi. Ia menatap lurus ke arah Bu Risti yang sedang memejamkan kedua matanya, entah sedang mengingat apa.
Baru saja Algi hendak duduk di sebelah mamah nya Anella, namun dokter sudah keburu keluar dari ruang pemeriksaan. Algi dan Bu Risti segera menghampiri dokter itu.
“Gimana keadaan anak saya dok?” tanya Bu Risti cepat
Terlihat dari mimik wajah sang Dokter yang mendung, Algi sudah mengira bahwa dia akan menerima kabar yang buruk tentang keadaan Anella.
“Sabar yah bu,” ucapnya membuat Bu Risti dan Algi tersentak
“Sabar? maksud dokter apa? apa yang terjadi dengan Anella dok?” serobot Algi gentar
“Anella, mencapai stadium akhir!!!”
Bagaikan petir membelah bumi, tidak Algi tidak Bu Risti keduanya shock mendengar pernyataan dari Dokter tentang Anella. Bu Risti tidak menyangka bahwa Anak satu-satunya itu sedang di ambang maut.
Algi terkulai lemas, kedua kaki nya mendadak tidak dapat menopang lagi tubuhnya. Tak terasa air mata pun mengalir dari kedua matanya yang bening bagaikan kelereng.
Kini Algi berada di ruang rawat menemani Anella yang sedang terbaring lemah tak sadarkan diri. Algi menggenggam erat tangan Anella yang dingin seperti es. Tak jarang dia menciumi tangan Anella dan mengecup kening Anella sang kekasih tercinta.
“An, bangun sayang. cepet sembuh yah, aku janji kalau kamu sembuh aku bakalan ajak kamu ke pantai untuk melihat matahari terbenam. Aku kangen sama candaan kamu An, aku kangenn…” Ucap Algi lirih
Tiba-tiba jari jemari Anella bergerak, kedua mata Algi berbinar melihat respon yang sungguh bergerak cepat.
“An, kamu mendengar ucapan ku?” tanya Algi tak sabar
Namun tidak ada jawaban dari Anella, pelan-pelan Anella membuka kedua matanya. Anella tersenyum bahagia, dia senang karena orang pertama yang Ia lihat ketika ia bangun dari pingsannya adalah lelaki yang dicintainya.
“Anela kamu sadar sayang?” kata Algi
Lalu, Algi pun berinisiatif untuk memanggil dokter. Tapi, Anella menahannya.
“Kamu mau kemana al?” tanya Anella lemas
“Aku mau panggil dokter sayang, biar dokter bisa cek keadaan kamu..” jawab Algi
Anella menggeleng lemah sembari tersenyum polos. Selain itu dia menggenggam erat tangan Algi, seakan-akan dia tidak ingin Algi meninggalkan nya saat itu.
“Tapi kenapa An, kamu gak mau di periksa?” tanya Algi
“Cukup ada kamu aku pasti kuat kok, karena kamu aku bertahan selama ini. Meski pun aku tau umur ku gak lama, tapi aku yakin bersama kamu semuanya akan baik-baik aja.” tutur Anella di iringi senyuman polosnya
Algi pun tersenyum haru mendengar tuturan kata Anella. Ya Tuhan aku sangat mencintai Anella, tolong jangan pisahkan kami. Jika maut harus menjemput Anella, maka jemputlah aku juga. Rintihan doa terucap dalam hati Algi.
“Aku sayang kamu An,” ucap Algi mengecup kening Anella
“Aku juga sayang kamu Al,” ikut Anella dengan suara melemah
Tapi di moment itu, tiba-tiba Anella menggigil kedinginan. Bahkan dia menggenggam tangan ku dengan erat.
“Kamu kenapa An?” Algi cemas
“Dingin al,” ucap Anella menggetar
Segera Algi mendekap Anella dengan penuh kasih sayang, Algi berharap dekapan nya itu menghangatkan tubuh Anella. Tapi bukan kehangatan yang Ia dapat, melainkan tubuhnya menjadi mengejang kaku. Algi merasakan hembusan nafas Anella menyapu lehernya.
Di lihat oleh Algi, kedua mata Anella terpejam rapat dengan wajah yang berseri. Tak ada hembusan nafas lagi dari hidung Anella. Ya, Anella sudah tiada, dia pergi membawa dekapan hangat kekasih tercintanya. Senyum polos Anella masih terbayang di pelupuk mata Algi. Algi hanya bisa menangis diam meratapi kepergian kekasih yang sangat dia cintai.
Mungkin maut bisa saja memisahkan dua insan yang saling mencintai, namun kesetiaan dan rasa kasih sayang mereka tidak akan pernah terhalang oleh apapun. Anella pergi membawa cinta tulus Algi, dan Algi mengantar kan Anella ke tempat peristirahatan terakhirnya dengan sejuta cinta yang belum sempat ia berikan ketika Anella masih hidup. Bagi Algi cinta yang ia berikan semasa hidup Anella belum lah cukup dan berarti. Namun bagi Anella satu dekapan terakhir dari Algi saja sudah cukup membuat Ia nyaman dan tenang untuk meninggalkan semua nya.
Cerpen Karangan: Ayu Irsa Rahayu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar