Jumat, 15 November 2013

Cerpen - Ku Nanti, Kita Kembali

Raut wajah Nabila, sesaat tertampak seperti monster imut saat ia terbangun dari mimpinya di atas susunan karakter-karakter yang begitu empuk, saat pagi menyapa
“Ah, pagi ini tak berbeda dengan kemarin..” sambutnya tanpa semangat,
Sesaat teringat olehnya kejadian tadi malam, ketika semua orang sedang berbagi cokelat, ketika semua orang berbicara tentang cinta melebihi kapasitas normalnya, ia justru mendapatkan hal yang bahkan semua orang tak ingin, di saat ia mengharap sebuah kejutan manis, di saat ia merindukan pelukan hangat itu, kenyataan menjawab dengan modus inversnya, Tak terasa, cairan itu pun meleleh lagi di wajahnya, mewakili kesedihannya yang mendalam, di dalam hatinya berkata..
“Mengapa harus ditemukan, bila akhirnya terpisah?”.
Namun begitu, Nabila tetap berharap cintanya kembali. Hari-hari tetap dilalui Nabila dengan senyuman, sekilas tak tampak aksen sedih di wajahnya…
Di kelas Tasya sahabat Nabila mengambil buku lalu duduk di samping Nabila
“Lho, Bil kamu kok fine-fine aja, gak galau nih?” tanyanya sambil menyalin jawaban matematika Nabila,
“Ah, ndak Sya, aku yakin dia pasti balik” ucapnya dengan penuh semangat sambil menghirup spray yang dipegangnya,
“Em, yakin bener, semangat ya say, kagak usah galau”
“Pastinya dong Sya”.
Bel pun berdering tanda waktu istirahat telah usai, satu persatu kawan Nabila pun masuk ke kelas, senyuman Nabila tak lepas dari seorang yang baru saja masuk itu, sorotan senyumannya buyar, ketika seorang itu meliriknya balik dengan wajah cuek, terbesit perih di hatinya, tapi ia anggap ini adalah cobaan untuk dia dan hatinya, seberapa kuat cinta yang dimilikinya, pelajaran pun berjalan seperti biasa, lambat laun Nabila merasa tak nyaman, tapi ia lagi-lagi bersabar, menanti waktu yang diharapnya mungkin terjadi…
“Woi, Did tu Nabila lu cuekin gitu sih, bantu dong gak kompak ah, 1 kelompok juga” Teriak Tasya ke Dida yang sedang ngobrol dengan teman-temannya, bermaksud mendekatkan Dida dengan Nabila kembali..
“Lu aja Sya, gue sibuk” Teriak Dida balik.
“Ah elu, kagak asyik ah,”.
“Udah Sya, aku bisa sendiri kok, sini, kamu aja yang bantu aku” ucap Nabila sambil mengambilkan kursi untuk Tasya,
“Maaf Bil, aku nggak bisa bawain Dida ke kamu”
“It’s ok Sya, gak papa.. ayo kita kerjain tugasnya…”
Tak terasa 1 bulan sudah dari hari yang menyakitkan batin itu, tapi tetap saja Nabila masih memendam rasa yang sama pada Dida, ia yakin, Dida pasti kembali untuknya.. selama itu, banyak cinta datang, menawarkan keinginannya untuk bersama Nabila, tapi Nabila masih saja enggan untuk berpindah ke lain hati [baca: move on], Hingga pada suatu hari, saat ia sedang berpetualang di Facebooknya, ia mendapati status hubungan Dida yang sebelumnya “lajang” berubah menjadi “berpacaran”, ia yakin ini adalah cara Dida untuk menyatakan cintanya kembali pada Nabila, tapi sayang, bagai tersengat getaran THUNDERSHOCK berkekuatan 100.000 Volt dari seekor Pikachu, ia membaca status-status di timeline Dida,
“Makasih buat semuanya :* #dnadnd”
“Puas deh jalan bareng haha! #dna”
“Ah, iya.. mungkin itu saudaranya kali” ucap Nabila dalam hati, mencoba menguatkan dirinya, mencoba menahan air matanya…
Tiba-tiba di chatbox Dida men-chat Nabila
“Eh, Bil”
“Iia sayang” balas Nabila penuh berbunga di hatinya,
“Sayang?, ga salah.. eh kita sudah putus ya” chat balik Dida, seakan tanpa hati dia mengetiknya,
“lho, tapi aku masih sayang sama kamu” balas Nabila mulai sedih…,
“Su*k, makan tuh sayang! ntar gue dimarain lagi”
“Sama siapa”
“Sama pacarku lah, sama siapa lagi”
“oh, Sapa namanya” Dalam hatinya Nabila berkata “Pasti yang dimaksud itu aku..”
“Lu juga udah tau kok”
“lah iya, siapa Didaa”
dan chat pun tiba-tiba ditutup oleh Dida, terbesit rasa sedih di hati Nabila untuk ke sekian kalinya.
Tiap Nabila bertanya, siapa nama cewek itu, tiap itu pula Dida tak mau menjawabnya..
Suatu hari Dida jatuh sakit, dan harus di rujuk ke Rumah Sakit di Jakarta, Nabila sedikit terkejut mendengar berita itu, dia tak menyangka bakal terpisah jauh dari Dida, meski itu hanya untuk beberapa saat, ia mulai tampak sedih, ditambah lagi BBM, sms, chat darinya tak pernah satupun dibalas oleh Dida.
“Lho, Nabila sayang, kok sedih sih, cerita dong” rayu Tasya yang baru datang dari kantin,
“Dida Sya”
“Kenapa Dida, Bil?”
“Dia sakit, kasian aku gak bisa jenguk dia, dia pasti sendirian di sana, mungkin mama dan papanya aja, tapi dia kan butuh temen”
“Lho, kan sudah ada Aura… ups,”
“Aura?, siapa itu Sya pacar barunya Dida ya?”
tanya balik Nabila, sambil melelehkan gumpalan air yang sempat tertahan di kedua matanya itu,
“Be.. begini Bil, benernya bukan pacar baru, tapi lebih ke CLBK, maaf Bil bikin kamu sedih” jelas Tasya beserta penyesalannya,
“Iya Sya, ndak papa” ucap Nabila sambil menangis, dengan memegang dadanya, seperti menahan sakit dan ia pun pingsan..
“Bil, kamu gak papa kan?, Bil, Nabila?”…
Suara indikator detak jantung itu begitu terdengar keras, menandakan keadaan sekitar semakin sepi saja, hanya Nabila, Tasya dan mama Nabila yang sedang tertidur pulas di sofa,
“Eh, aku di mana toh?” tanyanya dalam hati, “lho kok di rumah sakit, sudah waktunya tah?” gumamnya dalam hati lagi..
“Lho, Bil, kamu udah sadar” ucap Tasya yang baru masuk dari kamar mandi, lantas memeluk Nabila,
“Iya Sya, aku kok di sini yah? kenapa yah” tanya Nabila penuh bingung,
“Kamu tadi pingsan, terus dibawa ke UKS deh, karena keadaanmu memburuk, makanya dibawa ke sini, maafin aku ya Bil, maafin aku, mungkin kalau aku gak keceplosan tapi, kamu nggak kaya gini” sesal Tasya disusul lelehan air matanya,
“Sst, iya Sya ndak papa, kalau kamu ndak bilang gitu tadi, aku ndak akan tau dong” jawab Nabila mencoba membenarkan kesalahan Tasya, lalu ia berkata lagi… “Sya, aku titip surat ini ya, tolong berikan ke mama, aku mau tidur dulu, oia minta mama buat langsung baca ya”
“Iya Bil, aku kasih mama kamu ntar kalau udah bangun”
Nabila pun tertidur pulas, mungkin bisa dikata lebih pulas dari biasa, dengan senyumnya, Tasya tak menaruh curiga apapun, Tasya meneruskan cerpennya… tak lama kemudian mama Nabila bangun,
“Lho, Tasya ndak tidur nak?” tanya mama Nabila sedikit membuka mata,
“Belum tante, nanti saja, nanggung ini cerpennya, oh iya tante, ini surat dari Nabila katanya buat tante, dan harus langsung dibaca te hehe…”
“Oh, iya, makasih ya nak, aneh Nabila itu, bilang langsung kan bisa, ckckck”
mereka berdua pun tertawa kecil.. Sesaat setelah membaca surat itu, senyum tawa mama Nabila, tiba-tiba berubah menjadi tetesan air mata..
“Lho, ada apa tante?” tanya Tasya gelisah,
“Ndak nak, ndak ada apa apa, hanya masalah keluarga” jelas mamanya menutupi isi surat itu,
“Oh, maaf tante”
Pagi itu, Dida sudah pulang dari Jakarta, ia pun masuk sekolah kembali, banyak teman-teman yang bertanya kabar, atau sekedar bertanya pengalaman Dida selama di Jakarta,
“Eh Did, sini bentar, gue mau bicara sama lu…” ucap Tasya menarik paksa Dida,
“Apaan si lu Sya, ganggu orang cerita aja”
”Eh lu gak usah banyak omong deh, lu gak ngerasa, apa yang berbeda di kelas ini?”
”Apaan? kagak kagak, kagak ade”
”Emm, lu gak kangen sama Nabila?”
”Nabila?, eh kagak lah, dia tuh udah sama Yuna, ngerti lo?”
”Heh, Dida.. lu kagak tau ya?, Yuna tuh kakaknya yang baru aja pulang dari Austy set*an!!, oh itu yang bikin lu mutusin Nabila?, eh makanya kalau gak ngerti tanya dulu, dasar dongo!”
Tasya pun lari keluar dengan menitikkan air mata lagi
Dida hanya terdiam, terpaku, menyesali apa yang sudah dilakukan olehnya pada Nabila, sebenarnya ia yakin Nabila tak akan seperti itu, tapi, karena hasutan dan rayuan Aura, Dida pun terpancing, yang akhirnya Dida pun hanya sebagai cowok taruhan, ya.. Aura bertaruh dengan temannya untuk balikan dengan mantannya masing-masing, mereka pun sudah putus, agak lama sebelum Dida masuk sekolah… Dida pun berlari mengejar Tasya,
“Tasya woy, tunggu gue!”
“Hik.. Hik.. Apaan?”
“Ntar plis anterin gue ke Nabila, gue mau minta maaf sama dia, gua udah sakitin dia aja”
“Gak cuma AJA tapi BANGET, tau gak, lo sakit, dia bawaanya nangis pas sholat, itu buat sapa?, buat lo Diid!!” bentak Tasya lagi, sambil menangis..
“Iye, iye gue salah, gak biasanya lu ah, cengeng tau kagak, malu kalee sama anak buah lo!”
“Bi.. biarin, hk.. hk.. a, airmata gu..gue, napa el.. elu yang rep.. repot?, lu ku.. kudu ja.. janji ke gue, ja..ngan per… pernah lu nyesel gu.. gue a.. ajak ke Nabila” suara Tasya hampir tak jelas sesenggukan,
“Iyeee gue janji” jawab Dida.
Setelah pelajaran usai, mereka pun menuju tempat parkir untuk bersiap,
“Udah, lu ikut mobil gue aja, ntar mobil lu biar ngikut di belakang mobil gue dibawa supir gue aja” ucap Tasya sinis,
“iye dahh.. iye”
Dalam perjalanan pulang mereka saling diam, dan akhirnya Tasya pun membuka pembicaraan
“Eh, Did.. gue ke makam papa dulu…”
“Oke Sya…”.
Sesampainya di pemakaman, Dida pun membuntuti Tasya menuju sebuah makam,
“Lho, tanahnya masih merah Sya, baru kemarin ya meninggalnya?” tanya Dida penasaran,
“Udah lu diem…”.
Tasya menaburkan bunga di sekitar makam itu,…
“Sapa nama papamu Sya?” tanya Dida basa basi,
“Tu pindain bunganya biar lo tau”. Dida pun memindah buket bunga itu,
betapa terkejutnya Dida, saat nisan itu tertulis “NABILA FEBRIANTI” “Eh, Eh… S..S.SSya.. MM Makam N.. Nabilaa?” tanya Dida gelagapan hampir pingsan,
“Iye, lu udah puas buat dia sakit heh?, lu masi aja ya gak ngerasa, Nabila sakit tu gara gara tau lo balikan sama si Aura, ngerti lo?, dan gue sekarang tanya, siapa yang donor mata buat lo?”
“sssiapa?, NnnabN nabila?”
“SERATUS BUAT LO!” lantas Tasya pun dengan menahan tangisnya pergi meninggalkan Dida…
Sementara itu, Dida masih bersimpuh di depan rumah terakhir Nabila, dengan seribu penyesalan, ia menangis tersedu-sedu sambil memeluk erat nisan bertuliskan nama indah mantan pacarnya yang sangat mencintainya itu… Terbayang sekilas semu Nabila tersenyum melambai pada Dida, dan membisikkan..
“love you..”
dengan tenaga yang tersisa, terkuras dari tangisnya tadi…
“Nabilaaa, i love youu!!!” teriaknya bersama kilatan petir yang menyambar, tangisnya semakin deras, seiring derasnya tangisan langit saat itu.
Semenjak saat itu, Dida rutin mengunjungi makam mantannya itu seminggu sekali, bersama kekasih barunya, Tasya… mereka jadian sesuai permintaan Nabila dalam surat yang diberikannya pada mamanya saat itu…
Ahh, Entah aku menyebut happy ending atau sad ending nih, tapi setidaknya, Nabila telah membuktikan bahwa cintanya pada Dida tulus, Dida juga telah menyadari akan arti penting sebuah perasaan, jika seorang perempuan benar-benar memilih cintanya, tak ada alasan bagi laki-laki yang dicintainya untuk ragu akan ketulusan cintanya.
Cerpen Karangan: Arachmadi Putra Pambudi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar