Rabu, 13 November 2013

Cerpen - Senyummu Adalah Semangatku

Bagas bertemu dengannya saat ia sedang Terapi di rumah sakit. Ia gadis bernama Gloria Chindai Lagio. Bagas memanggilnya Cindai. Cindai mengidap penyakit Leukemia atau yang berarti Kanker Darah. Kehidupannya bisa dibilang sudah tidak lama. Namun, bagas mencoba menjadi seseorang yang sangat berarti di sisi cindai.
“Ndai, makan dulu ya..” ucap Bagas
“Nggak ah gas… Gak laper” tolak Cindai halus
“Muka kamu udah pucet tuh.. Ayo.. Aaaa” Bagas terus mencoba menyodorkan sendok ke arah mulut Cindai dan akhirnya masuk.
“Nah gitu dong..” tutur Bagas sambil membersihkan sisa sisa bubur di tepi bibir Cindai
“Gas…”
“Ya? Mau makan lagi?” Tanya Bagas
“Hmm engga kok. Aku udah kenyang..”
“Terus?”
“Hmm… Kamu kenapa sih perhatian banget sama aku?” Tanya Cindai
“Cindai, denger ya. Aku perhatian sama kamu karena aku sayang sama kamu. Udah ah, kamu udah nanya itu berkali kali tau gak..”
“Tapi…” ujar Cindai terpotong karena bagas menaruh telunjuknya di bibir tipis Cindai
“Udah ya.. Mending sekarang kamu senyum..” balas Bagas
Cindai pun tersenyum “Udah kan?”
“Kurang…”
“Kurang?”
“Iya.. Kurang lama senyumnya… hehe” Goda Bagas
“Ih bagas…”
Hari ini adalah jadwal Terapi untuk Cindai.
“Ndai kamu udah siap?” Tanya Bagas
“Selalu kok gas…” Balas Cindai tersenyum begitu manis. Bagas membelai rambut Cindai
“Sabar ya ndai… aku yakin kamu akan sembuh…” Gumam Bagas sambil memperhatikan wajah gadis yang sedang membuatnya jatuh… Jatuh hati…
Lamunan Bagas terbangun karena dokter memanggilnya.
“Nak bagas…” panggil dokter itu
“Iya dok..” Bagas pun mendekat
“Gimana keadaan Cindai dok?” Tanya Bagas
“Kita bicarakan di dalam saja..” ujar Dokter lalu masuk ke ruangannya dan aku mengikuti dari belakang.
Ruangan berbau obat ini menjadikan Bagas semakin takut. Semakin takut kehilangan Cindai.
“Jadi, gimana keadaan Cindai dok?” ujar Bagas lalu duduk di bangku yang telah disediakan
“Hmm.. Keadaan Cindai sangat lemah saat ini…”
Bagas tidak mengerti apa maksud dokter. Bagas hanya terus berdiam tak bergeming.
“Penyakit itu, penyakit leukemia yang telah bersarang di diri Cindai selama 1 setengah tahun ini sudah sangat parah. Bahkan sekarang sudah mencapai stadium akhir dan hidupnya bisa diperkirakan tinggal 5 hari.”
-JDERR-
Petir menyambar nyambar hati Bagas. Orang yang kini sangat ia sayangi, sangat ia Cintai mendadak menjadi seseorang yang paling paling paling menakutkan. Bukan apa apa, tapi karena penyakit berstadium itu. Penyakit sialan itu.
“Dok, ini serius?” Tanya Bagas memastikan. Dokter hanya mengangguk
“Apa dia bisa sembuh dok?” Tanya Bagas lagi
“Seperti yang ku bilang tadi, hidupnya tinggal 5 hari lagi.”
“Cukup! Kau memang seorang dokter. Tapi kau bukan tuhan yang bisa seenaknya menentukan kapan akan meninggalnya seseorang.” Bentak Bagas lalu keluar dari ruangan dokter itu.
“Kamu pasti sembuh ndai… Pasti!” gumam Bagas sambil mengacak acak rambutnya di bangku depan tempat tidur Cindai.
“Gas kenapa?” panggil seseorang
Bagas mendongak “Eh cindai.. Gak papa. Ada yang bisa dibantu?” Tanya Bagas
“Nggak kok… Aku Cuma mau minta anterin ke taman depan rumah sakit gas… Aku bosen.” Balasnya
“Dengan senang hati, Gloria Chindai Lagio…” ujar Bagas sambil mengambil sebuah kursi roda
“Pakai itu? Emangnya aku selemah itu ya gas sampai gak bisa jalan?” Tanya Cindai saat melihat kursi roda sedang dipegang bagas.
“Hehehe.. terus?”
“Aku mau dirangkul kamu…” balas Cindai sambil tersenyum.
“Serius? Oke oke..” semangat Bagas
“Gak papa kan gas?” Tanya Cindai
“Kenapa enggak? Ayo ah. Nanti keburu sore” balas Bagas. Cindai mengangguk dan membiarkan bagas merangkulnya
Akhirnya mereka berjalan jalan di sebuah taman yang sangaaatt indah. Memang pemandangannya hanyalah orang orang sakit yang sedang berlalu lalang. Tapi karena bersama Cindai, bagas merasa orang orang yang sakit itu adalah malaikat malaikat cinta yang sedang mengelilingi mereka.
“Ndai..” panggil Bagas
“Ya gas?”
“Suka?” Tanya Bagas
“Suka apa?” Cindai Nampak bingung
“Suka sama aku dong hehehe… Bercandaa.. suka sama tamannya?” goda Bagas
“Wooo… Suka banget. Makasih ya”
“Untuk?” Tanya bagas
“Seeeemuanyaaa…” balas cindai sambil merangkul bagas
“Sama sama ya cindai, Eh aku foto kamu ya…” ujar Bagas. Bagas memang menyukai Dunia Potret memotret, dia juga saat ini bekerja di sebuah agency fotografi di Jakarta.
“Ah nggak deh.. Aku jelek hehe” balas Cindai
“Siapa bilang kamu jelek? Kamu orang tercantik nomor 2 di dunia setelah mama aku.. Aku foto ya” tutur Bagas sambil segera mengambil ancang ancang
“Senyummm…” Teriak Bagas
“Iya iya…” Cindai berpose sambil tersenyum sangat manis.
Tak terasa sudah hampir 20 lebih foto cindai yang diambil bagas di taman.
“Coba liat dong gas fotonya” ujar Cindai
“Nih..” bagas memberi kamera SLRnya ke Cindai
“Ih yang ini jelek… Aku hapus ya” ujar Cindai sambil menunjukkan posenya yang menjerengkan mata dan memeletkan lidah
“Mana? Hahhaha yang itu.. Udah jangan dihapus dong.. kenang kenangan mimik terjelek kamu tau” goda Bagas
“Jahat..” ujar Cindai
“Jangan ngambek dong.. aku… kelitikin nih…” Bagas segera mengelitiki cindai.
“hahahahah… heheheh… hohohoho.. hihihi… geli gas… udahhh… udaahhh” Cindai kegelian
“Jangan ngambek ya…” ujar Bagas
“I..i..iya… hahahaha.. udah dong” balas Cindai yang masih tertawa.
“hehehe kayanya lagi seneng banget ya” balas Bagas
“Iya lah kan…” omongan Cindai terpotong karena suara handphone bagas
Dan kau hadir merubah segalanya
Menjadi lebih indah
Kau bawa cintaku setinggi angkasa
Membuatku merasa sempurna
Bagas segera mengangkatnya
“Halo..” ujar bagas
“Halo.. Ini bagas?” Tanya orang di ujung telepon
“Iya saya bagas. ada apa ya?”
“Hm begini.. bisa tidak besok kamu datang ke Bandung?” Tanya orang itu
“Bandung? Ada apa? Ini siapa?” bagas bingung
“Saya Chelsea. Kamu inget saya akan melangsungkan pernikahan, dan kamu yang memotret dari prewedding sampai resepsi. Apa kamu lupa?” Ujar Chelsea
“Oh iya iya. Maaf saya lupa.. baik saya akan ke Bandung besok. Sampai jumpa disana”
Tuttt.. Bagas menutup teleponnya dan kembali terfokus kepada Cindai
“Ndai..” Panggil Bagas
‘Bandung? Besok? Mau ngapain? Sama siapa? Ah apa urusanmu ndai. Kamu bukan siapa siapanya’ Gumam Cindai melamun
“Ndai…”
“Cindaiii!” ujar Bagas lebih keras
“Eh iya apa gas?” Tanya Cindai kaget
“Ngelamunin apa sih?”
“Hm nggak kok.” Cindai bohong
“Yang bener?” Tanya Bagas. Cindai mengangguk
“Hmm oke deh.. Besok aku mau ke bandung..”
“Bandung? Berapa lama?” Tanya Cindai
“Iya Bandung. Kira kira 4 hari.” Balas Bagas
“Sama siapa? Pacar ka..kamu ya?” Tanya Cindai gugup
“Pacar? Aku gak punya pacar ndai. Kenapa sih?” Balas Bagas
“Ah gak papa ko gas.. Eh udah yuk, udah mulai sore nih” ujar Cindai
“Hmm iya ya udah yuk..”
Bagas kembali merangkul Cindai menuju ruangannya.
“Gas..”
“Ya?”
“Kamu mau tau sesuatu?”
“Apa?”
“Hmm.. Sekuat apapun aku bertahan, suatu saat bila takdir menghampiriku, aku tetap harus meninggalkan kamu, Gas..” ucap Cindai lirih, tapi ia tetap tersenyum tegar.
“Kok kamu ngomong gitu sih?” Balas bagas dengan nada yang tidak percaya
“Gak akan ada yang baik-baik aja kalau kamu pergi, Ndai. Aku selalu butuh kamu.” Tambah Bagas. Cindai hanya menimpalinya dengan senyuman.
“Kamu? Butuh aku? Aku? Aku siapa gas? Bukan siapa siapa..” balas Cindai sambil membuang muka
“Kamu, kamu segalanya buat aku.”
“Kenapa kamu ngomong gitu? bahkan kita gak ada hubungan apa apa. Pacaran pun enggak kan gas!” Bentak Cindai
“Oh jadi kamu mau kita pacaran supaya aku bisa leluasa membutuhkan kamu? Oke.. Kamu mau jadi pacar aku, Gloria Chindai Lagio?” ujar Bagas sambil memegang tangan Cindai
‘Apaa? Ini sebenernya saat yang paling aku tunggu. Tapi… Ya sudah lah, hidupku tinggal sebentar lagi. Setelah aku pergi, dia pasti bahagia bersama wanita lain. Lebih baik aku tidak memulainya sama sekali daripada harus mengakhiri semuanya dengan kepedihan.’ Gumam Cindai
“Ndai? Gimana?” Ucap Bagas tersenyum
“Hah? Apaa? Aku.. aku.. maa…maa..” Cindai menggantungkan kalimatnya
‘Aku bisa tega. Aku bisa tega. Ayo cindai, tega kepada bagas!’ pikir Cindai
“Pergi bagas! pergii.. aku tidak mau melihatmu lagi. Pergi!” bentak Cindai
“Tap.. Tapi ndai…”
“Pergi bagas.. kumohon” ujar Cindai kini lebih halus
“Baik.. Tapi, apa sebabnya kamu mengusir aku ndai?”
“Kamu gak perlu tau gas! Pergi. Kumohon” Mohon Cindai
“Ok. Terimakasih buat semuanya ya. Selamat tinggal” Bagas keluar dari ruang rawat Cindai.
“Bagaaas…” Teriak Cindai sambil menangis tersedu sedu
Cindai sedang terlelap di ruang rawatnya, terdengar suara pintu terbuka.
-KREKK-
Suara jejak kaki perlahan mengeras dan terdengar mendekat. Seseorang telah berada di samping cindai yang sedang terlelap.
“Ndai, aku Cuma mau kamu tau. Aku sayang sama kamu dan aku mau kamu nunggu aku 4 hari kedepan. Aku akan melamar kamu, Ndai. Aku janji” ujar orang itu
“Ini kalung untukmu. Aku taruh disini aja ya, semoga kamu suka. Bagas sayang Cindai. Sampai jumpa 4 hari lagi ya” tambahnya yang ternyata seorang bagas lalu keluar dari ruangan cindai tetapi cindai tetap terjaga dari tidurnya
Sinar matahari pagi sudah menerobos jendela kamar cindai dan terarah ke tempat tidur Cindai karena gorden telah dibuka oleh mama.
“Ndai, bangun. Kamu harus Terapi.. ayo bangun..” ujar mama halus
“Hoammm… Iya maa…” balas Cindai yang masih setengah mengantuk
“Maa…” Panggil Cindai
“Iya?” balas mama
“Apa bener hidup aku tinggal sebentar lagi? Apa penyakit ini tidak bisa disembuhkan?” Tanya Cindai
“Kenapa kamu ngomong gitu ndai? Kamu pasti sembuh..” balas mama tersenyum pedih
“Antarkan aku ke dokter naga maa.” Mohon Cindai
“Iya sebentar ya..”
Cindai telah berada di sebuah ruangan, ya ruangan dokter naga. Dokter naga sudah siap di bangkunya saat Cindai memasuki ruangan.
“Pagi Cindai..” sapa Dokter Naga
“Pagi juga dok..” Balas Cindai
“Mau Terapi ya?” Tanya Dokter Naga. Cindai tidak menjawab
“Cindai?” Panggil Dokter
“I..iya dok?” sahut Cindai
“Kenapa?”
“Dok, aku boleh Tanya sesuatu kan?” Tanya Cindai
“Boleh. Apa?” Balas Dokter
“Apa benar hidupku tidak akan lama lagi? Apa penyakitku semakin parah dan tidak akan sembuh?” Tanya Cindai. Dokter Naga terlihat tak bergeming
“Dokter kumohon jawab pertanyaanku..!” Ujar Cindai dengan nada sedikit meninggi
“Baiklah! Cindai, penyakit kamu sudah mencapai stadium akhir dan hidup kamu tinggal 4 hari lagi!” ujar dokter.
-JEDERRR-
Petir bagai menyambar jantungnya.
“Ta.. tapi dok.. Apa dokter serius?”
“Kita lihat saja nanti..” Balas Dokter
“Tuhan tau yang terbaik untukmu, Cindai..” ujar dokter itu
“Ya udah dokter cek kamu dulu..” tambahnya
“Gak mau dok. Aku lebih baik mati aja, daripada setiap hari harus ngerasain jarum suntik keluar masuk kulit aku, minum obat tiap jam, cek up setiap pagi dan malem, dan harus ngerasain sakit yang luar biasa saat obatnya berkontraksi.” Balas Cindai dengan nada lirih
“Tapi, kamu harus mencoba melawannya. Kamu kuat cindai, kamu kuat!” bentak dokter itu
Cindai menangis. “Ayo Cindai. Kamu bisa! Dokter mau kamu sembuh.” Tambahnya kini dengan nada halus
“Baiklah… Tapi, jika aku tidak sembuh juga dokter akan berjanji jika selanjutnya ada anak yang berpenyakit sepertiku, dokter akan menyembuhkannya. Aku ingin menjadi orang terakhir yang mempunyai penyakit ini.” Tangis cindai semakin pecah
“Dokter janji..” ujar dokter sambil menuntun Cindai
Di lain tempat, bagas sedang menyiapkan semuanya yang ia perlukan untuk pemotretan di Bandung.
Dan kau hadir merubah segalanya
Menjadi lebih indah
Kau bawa cintaku setinggi angkasa
Membuatku merasa sempurna
Ponsel Bagas berdering dan menunjukkan nama ‘Chelsea’ di layarnya
“Halo..” ujar bagas
“Halo, Bagas?”
“Iya.”
“Kamu dimana?”
“Aku sudah on the way ya.. Mungkin telat sekitar 2 jaman chel.”
“Oh ya sudah gak papa.. Tapi kamu dateng yah, jangan sampai enggak.”
“Pasti! Udah dulu ya. Bye seeyou”
“Iya bye”
Tuttt… Bagas telah menutup teleponnya bersama Chelsea
“harus buru buru ke mall nih…” ujar bagas lalu memasukkan kopernya ke mobil dan segera menuju mall
Detik telah berlalu menjadi menit, menit pun berlalu berganti menjadi jam, bahkan jam begitu cepat berlalu menjadi hari. Kini adalah hari ke-3 Bagas di Bandung.
“Chels, saya boleh pulang hari ini?” Tanya Bagas
“Kan acara resepsinya besok, Gas. Kenapa? Ada masalah?” balas Chelsea
“Nggak ada kok chels, ya udah lanjut aja foto prewedd nya. Mana difa?” Tanya Bagas
“Gue disini. Ayo…” ujar Difa calon suami Chelsea yang tiba tiba datang
“Kalian begini ya… begini.. nah kaya gitu.. bagus.. 1… 2.. 3” begitulah kata kata yang terlontar dari mulut bagas saat memotret Difa dan Chelsea.
“Oke kita break!” ujar Bagas
“Sip..” Balas Difa & Chelsea lalu pergi
Kini bagas terduduk di pinggir kolam renang bersama kamera SLRnya yang terpampang foto Cindai di layarnya.
“Cindai… kamu lagi ngapain? Kangen deh. Kangen nyuapin kamu, kangen ngerangkul kamu, kangen ngasih kamu obat dann kangen senyuman kamu ndai. Kamu tau gak? Aku semangat kerja jauh gini karena senyum kamu ndai. Aku mau nikah sama kamu dan aku akan memiliki senyum kamu itu sepenuhnya. Karena Senyum kamu adalah semangatku. Tunggu aku ya ndai.” Ujar Bagas lalu kembali untuk memotret Difa dan Chelsea.
“Bagas… bagas… bagaaass!” Cindai terbangun dari tidurnya dengan memanggil nama ‘Bagas’
“Cindai? Kamu kenapa cindai?” Tanya mama yang terbangun dari tidur nyenyak-nya
“bagas maa.. bagas..” ujar Cindai
“Bagas? Bagas kenapa?”
“Bagas kecelakaan…”
“Hah? Itu Cuma mimpi cindai… Sudahlah kamu tidur lagi..” ujar mama menyenangkan
“Tapi…”
“Sudahlah…”
“Baiklah…” Cindai kembali merebahkan badannya, namun tidak langsung tidur melainkan melamun.
‘Bagas, aku kangen… Kapan kamu balik? Kata dokter hidupku Cuma tinggal besok. Aku mau saat aku menutup mataku nanti kamu ada di samping aku gas, nemenin aku untuk yang terakhir kalinya. Semoga…’ Gumamnya sambil dalam lamunan.
Ayam jago telah berkokok, matahari telah menyingsing, orang orang telah berlalu lalang di luar rumah sakit, namun tidak untuk Cindai. Dia masih saja harus mengikuti Terapi dari dokter.
“Dok, apa di hari terakhir ku ini aku masih harus merasakan penderitaan seperti biasa? Aku mau di hari terakhirku ini merasakan semua yang berbau kebahagiaan. Bukan kesengsaraan, Dok!” ujar Cindai ke Dokter Naga
“Kita akan cek dulu keadaan kamu sekarang.. berbaringlah…” ujar Dokter halus. Cindai berbaring di tempat tidur pemeriksaan.
Dokter mulai meletakkan stetoskopnya di dada dan perut cindai, mengarahkan sinar senter ke mata dan mulut Cindai, dan memasukkan jarum suntik ke lengan Cindai untuk mengambil darah.
“Nah sekarang sudah selesai. Kamu boleh kembali ke kamar.” Ujar Dokter
“Terimakasih, Dok.” Balas Cindai lalu bergegas keluar dari ruang Dokter Naga
“Bu, sepertinya penyakit anak ibu semakin parah. Waktunya tinggal hari ini bu.” Ujar Dokter kepada mama Cindai
“Dok… Lakukan yang terbaik untuk kesembuhan anak saya… saya mohonn…” balas Mama Cindai
“Kami telah melakukan yang terbaik untuk cindai, namun jika tuhan berkehendak ia harus meninggalkan kita, kami para dokter hanya bisa pasrah.” Ujar Dokter Naga. Mama Cindai hanya menangis mendengar perkataan dokter Naga barusan.
“Terimakasih dok.. Anak saya sudah bisa bertahan selama 5 tahun ini, karena dokter dan semuanya.” Balas Mama
“Tidak bu. Tuhan yang mengizinkannya untuk hidup melawan kanker itu selama 5 tahun belakangan ini.”
“Mungkin memang hari ini waktunya dia kembali kepada tuhan. Saya sudah ikhlas dokter..” ujar mama Cindai yang masih dalam tangisnya
“Percayalah… Ini semua rencana tuhan, Bu.” Balas Dokter Naga lalu keluar dari ruangannya meninggalkan Mama Cindai sendiri.
Bagas sedang asik menyetir mobil menuju Jakarta, tiba tiba sebuah kotak perhiasan kecil yang berisi 2 cincin yang bagas beli 3 hari yang lalu di mall terjatuh.
“Sial…” umpat Bagas sambil meneruskan jalan mobilnya
‘Ada apa dengan Cindai? Ada apa dengan Cindai dan ada apa dengan cindai’ lah yang sedang berputar putar di otak bagas.
“Cindai akan baik baik saja…” ujarnya sambil menghentikan mobilnya lalu memungut 2 cincin yang akan ia pakai untuk melamar Cindai hari ini.
“Maa…” Panggil Cindai
“Ya sayang?”
“Aku minta maaf ya maa kalau aku ada salah sama mama…” ujar Cindai sambil mencoba meraih tangan mamanya
“Cindai, kamu gak punya salah apa apa sama mama. Sekarang, kamu gak usah pikirin apa apa lagi. Gak usah pikirin kata Dokter Naga ya. Kamu pasti sembuh sayang..” balas mama lalu mencium tangan Cindai
“Aku rasa omongan dokter naga benar, Ma. Hari ini adalah hari terakhirku. Hari terakhir dimana aku bisa melihat semuanya, dan aku ingin melihat mama bahagia saat aku pergi nanti. Percayalah maa, Tuhan tau yang terbaik. Aku menyayangi mama…” ujar Cindai
“Nggak, Sayang… Kamu masih harus disini nemenin mama… Mama sayang sama kamu…” ujar Mama sambil menangis tersedu sedu
“Tapi Tuhan lebih sayang sama Cindai, Tan” ujar seseorang yang tiba tiba masuk.
Mama dan Cindai menoleh ke arah suara.
“Bagas?” Cindai kaget saat mendapati bagas telah ada di depan pintu ruang rawatnya
“Iya ndai ini aku…” balas bagas mendekat
“Mau ngapain kamu kesini?”
“Aku… aku… aku bawa roti loh buat kamu.. Nih dimakan ya” ujar Bagas mengalihkan pembicaraan
“Huh…” Cindai membuang nafasnya dan memalingkan wajahnya dari wajah bagas.
“Ndai… Aku butuh kamu, aku butuh kamu untuk menghiasi seluruh hari hariku kedepannya, aku butuh kamu untuk menjadi separuh hatiku yang masih hilang dan aku butuh…”
“Butuh? Butuh katamu? Apa yang kau butuhkan lagi dari orang berpenyakitan seperti aku Gas! Aku udah gak ada gunanya lagi.” Ujar Cindai memotong omongan bagas
“Ndai, aku serius. Apakah kamu mau menjadi tunanganku?” Bagas mengeluarkan sekotak perhiasan berisi Cincin yang tadi jatuh dimobil.
“Ba…Ba..Bag.. Bagass?” Cindai menangis
“Kamu mau?” Tanya Bagas serius.
Tak terduga, seorang bagas telah meluluhkan hati seorang Cindai dengan sebuah kotak perhiasan berisi 2 cincin berterakan tulisan ‘BaDai’
“A.. aku… aku mau gas” ujar Cindai
“Serius? Terimakasih Cindai.” Ujar Bagas memeluk Cindai
“Sama sama gas..” Cindai membalas pelukan Bagas
Waktu menunjukkan pukul 15:58. Cindai sedang ngobrol bersama Bagas.
“Gas, kalau aku pergi nanti kamu bakal ganti aku atau ngga?” Tanya Cindai
“Hmm.. Ganti gak yaa…” Goda Bagas
“Ih serius…”
“Iya iyaa.. Ya nggak lah, kamu satu satunya yang ada di sini.” Ujar Bagas menunjuk bagian jantungnya.
Tak lama mereka bercanda, darah segar keluar dari hidung Cindai.
“Ndai.. idung kamu keluar darah..” ujar bagas panic
“Gausah panik, ini udah biasa gas. Tolong ambilin tissue disana ya..” ujar Cindai menunjukkan tempat tissue
“Nih.” Bagas menyodorkan Tissue untuk Cindai
“Thanks…” tutur Cindai lembut yang masih bisa tersenyum.
“Gas, udah dulu ya… Aku mau pulang, o iya kasih Cincin ini ke orang yang lebih tepat aja. Aku gak pantes pake Cincin ini… Semoga, kamu menemukan wanita yang lebih dari aku… Aku sayang kamu…” ujar Cindai sambil menarik Cincin dari jari manisnya dan segera memejamkan mata.
“Cindaaai…” Teriak bagas saat melihat Cindai di depannya sudah menghembuskan nafas terakhirnya
Bagas terduduk di bangku taman yang bekas ia duduki bersama Cindai dulu sambil melihat foto foto Cindai di kameranya.
“Cindai, kalau aja di dunia ini gak ada lagi yang senyumnya melebihi manisnya senyuman kamu lebih baik aku nyusul kamu ndai. Karena Cuma senyum kamu yang bisa bikin aku semangat. Tanpa kamu? Aku bukan apa apa. Jaga senyumanmu itu ya ndai, kita akan bertemu di surganya tuhan nanti. I love you” ujar Bagas lalu mematikan kameranya dan segera masuk ke rumah.
Cerpen Karangan: Muhammad Zaky

Tidak ada komentar:

Posting Komentar